Jakarta – Situasi keamanan di Arab Saudi yang memanas setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh mulai memengaruhi perjalanan umrah. Gangguan penerbangan dan ketidakpastian jadwal keberangkatan membuat sebagian calon jemaah khawatir, sementara minat perjalanan umrah dilaporkan mengalami penurunan di sejumlah pasar perjalanan.
Bandara Riyadh ditutup menyusul rangkaian serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi. Penutupan tersebut berdampak pada sejumlah penerbangan internasional, terutama perjalanan yang menggunakan skema transit melalui Riyadh maupun rute lain yang terdampak penyesuaian operasional maskapai. <escape>[1]</escape>
Penutupan Bandara Memicu Kekhawatiran Calon Jemaah
Gangguan perjalanan udara menjadi perhatian bagi calon jemaah yang telah mempersiapkan keberangkatan ke Tanah Suci. Ketidakpastian jadwal penerbangan, kemungkinan pembatalan, hingga perubahan rute membuat sebagian orang harus menunggu informasi lebih lanjut dari maskapai dan biro perjalanan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang yang berangkat melalui Riyadh. Penerbangan transit yang menghubungkan sejumlah kota internasional dengan Jeddah atau Madinah juga dapat mengalami penyesuaian apabila maskapai menilai rute tersebut berisiko atau tidak memungkinkan untuk dioperasikan.
Di Indonesia, dampak pembatalan penerbangan turut dirasakan calon jemaah. Sebanyak 53 calon jemaah umrah dilaporkan tertahan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada 12 Oktober 2026 setelah penerbangan mereka dibatalkan akibat situasi keamanan di kawasan tersebut. <escape>[2]</escape>
Kondisi ini menunjukkan bahwa perjalanan umrah tidak hanya bergantung pada kesiapan jemaah dan pengurusan dokumen, tetapi juga pada keamanan jalur penerbangan internasional.
Minat Perjalanan Umrah Mulai Melemah
Ketidakpastian perjalanan juga berpengaruh terhadap keputusan calon jemaah untuk melakukan pemesanan. Laporan Gulf News pada 14 Oktober 2026 menyebutkan bahwa agen perjalanan di Uni Emirat Arab melihat melemahnya permintaan umrah setelah pembatalan penerbangan akibat serangan di Riyadh.
Sejumlah calon penumpang dilaporkan lebih berhati-hati dalam menentukan jadwal perjalanan karena khawatir menghadapi pembatalan tambahan atau kesulitan memperoleh penerbangan pengganti. Situasi tersebut menjadi perhatian karena periode Oktober hingga Januari biasanya termasuk masa meningkatnya permintaan perjalanan umrah. <escape>[3]</escape>
Meski demikian, penurunan permintaan di Uni Emirat Arab tidak otomatis berarti seluruh pasar umrah, termasuk Indonesia, mengalami penurunan dengan tingkat yang sama. Perkembangan pemesanan di setiap negara dapat berbeda, bergantung pada rute penerbangan, kebijakan maskapai, dan keputusan calon jemaah.
Penerbangan Langsung dari Indonesia Masih Beroperasi
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa penerbangan langsung dari Indonesia menuju Arab Saudi masih beroperasi. Kementerian Perhubungan terus memantau perkembangan situasi, khususnya dampak terhadap penerbangan transit yang terhubung dengan Riyadh.
Bagi jemaah Indonesia, penerbangan langsung menuju Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah atau Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz di Madinah dapat menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan sesuai ketersediaan jadwal dan arahan resmi. Namun, calon jemaah tetap harus memastikan status penerbangan sebelum berangkat ke bandara.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, pada 15 Oktober 2026 mengimbau jemaah Indonesia untuk memilih penerbangan langsung menuju Jeddah atau Madinah. Pemerintah juga belum mengeluarkan imbauan untuk menunda pelaksanaan umrah secara umum. <escape>[4]</escape>
Jemaah Diminta Memastikan Jadwal Keberangkatan
Calon jemaah yang sudah membeli tiket disarankan menghubungi biro perjalanan dan maskapai untuk memperoleh informasi terbaru mengenai jadwal, perubahan rute, serta ketentuan pengembalian dana atau penjadwalan ulang apabila penerbangan dibatalkan.
Jemaah juga perlu mengikuti informasi dari Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Luar Negeri, serta perwakilan Indonesia di Arab Saudi. Informasi yang belum terverifikasi sebaiknya tidak langsung disebarkan agar tidak menimbulkan kepanikan.
Situasi keamanan dan operasional penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, keputusan perjalanan sebaiknya didasarkan pada informasi resmi dan kondisi penerbangan terkini, bukan hanya kabar yang beredar di media sosial.
Bagi calon jemaah, keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Memastikan rute penerbangan, berkomunikasi dengan pihak travel, serta menyiapkan rencana alternatif dapat membantu mengurangi risiko kendala selama perjalanan menuju Tanah Suci.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























