Jakarta – Telur merupakan salah satu bahan pangan yang mudah ditemukan dan banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Selain harganya relatif terjangkau, telur juga dikenal sebagai sumber protein yang dapat diolah menjadi berbagai hidangan. Namun, ketika membeli telur, sebagian orang mungkin bertanya-tanya apakah telur bercangkang cokelat lebih sehat dibandingkan telur bercangkang putih.
Anggapan bahwa telur cokelat memiliki kandungan gizi lebih tinggi ternyata tidak sepenuhnya benar. Warna cangkang telur pada dasarnya ditentukan oleh ras ayam yang menghasilkannya, bukan menjadi penanda langsung kualitas nutrisi di dalam telur.
Warna Cangkang Telur Ditentukan Ras Ayam
Perbedaan warna cangkang telur berkaitan dengan faktor genetik ayam petelur. Beberapa ras ayam menghasilkan telur bercangkang putih, sedangkan ras lainnya menghasilkan telur bercangkang cokelat.
Ayam jenis White Leghorn, misalnya, dikenal menghasilkan telur putih. Sementara itu, sejumlah ras seperti Rhode Island Red cenderung menghasilkan telur dengan cangkang cokelat.
Warna tersebut terbentuk melalui proses pembentukan cangkang di dalam saluran reproduksi ayam. Pada telur cokelat, pigmen yang disebut protoporfirin IX berperan memberikan warna pada permukaan cangkang.
Dengan demikian, perbedaan warna tidak berarti telur cokelat berasal dari ayam yang lebih sehat atau dipelihara secara lebih alami. Kondisi pemeliharaan ayam perlu dinilai berdasarkan faktor lain, seperti pakan, lingkungan, dan sistem peternakannya.
Apakah Kandungan Gizi Keduanya Berbeda?
Secara umum, telur putih dan telur cokelat memiliki kandungan nutrisi yang relatif sebanding. Keduanya dapat menyediakan protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menjelaskan bahwa kandungan nutrisi telur bercangkang putih dan cokelat tidak berbeda secara signifikan hanya karena warna cangkangnya.
Perbedaan kandungan gizi lebih mungkin dipengaruhi oleh faktor lain, terutama jenis pakan yang diberikan kepada ayam. Ayam yang mendapatkan pakan dengan tambahan nutrisi tertentu, misalnya omega-3, dapat menghasilkan telur dengan kandungan zat gizi tersebut lebih tinggi.
Karena itu, konsumen yang ingin mendapatkan manfaat nutrisi tertentu sebaiknya memperhatikan informasi pada kemasan dan metode produksi telur, bukan hanya melihat warna cangkangnya.
Mengapa Telur Cokelat Terkadang Lebih Mahal?
Di sejumlah pasar, telur cokelat dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan telur putih. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh biaya produksi dan karakteristik ayam petelur yang digunakan.
Beberapa ras ayam penghasil telur cokelat memiliki ukuran tubuh lebih besar sehingga membutuhkan lebih banyak pakan. Biaya tambahan tersebut dapat memengaruhi harga jual telur kepada konsumen.
Selain itu, persepsi masyarakat bahwa telur cokelat lebih alami atau lebih sehat juga dapat memengaruhi permintaan pasar. Padahal, harga yang lebih mahal tidak otomatis menunjukkan kandungan gizi yang lebih baik.
Cara Memilih Telur yang Baik untuk Dikonsumsi
Daripada hanya berfokus pada warna cangkang, konsumen sebaiknya memperhatikan kesegaran dan kondisi telur ketika berbelanja.
Pilih telur dengan cangkang utuh, tidak retak, dan tidak menunjukkan tanda kerusakan. Perhatikan pula kebersihan produk, kondisi penyimpanan, serta tanggal kedaluwarsa jika tercantum pada kemasan.
Telur perlu disimpan dengan benar dan dimasak hingga matang untuk membantu mengurangi risiko infeksi akibat bakteri, termasuk Salmonella.
Pada akhirnya, telur putih maupun cokelat sama-sama dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang. Pilihan terbaik adalah telur yang segar, ditangani secara higienis, dan sesuai kebutuhan serta anggaran keluarga.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























