69e1ab41a455c
Viral Ikan Sapu-Sapu Jadi Bahan Makanan, Pemprov Ingatkan Risiko Kesehatan Serius

Jakarta – Isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan makanan kembali menjadi sorotan publik. Fenomena ini ramai diperbincangkan setelah pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menilai ikan tersebut memang terlihat “lucu”, tetapi memiliki potensi bahaya jika dikonsumsi, terutama bila berasal dari perairan tercemar.

Ikan sapu-sapu dikenal luas sebagai ikan invasif yang banyak ditemukan di sungai-sungai perkotaan, termasuk di Jakarta. Populasinya sangat melimpah karena kemampuan adaptasinya tinggi dan minim predator alami. Di satu sisi, keberadaan ikan ini membantu membersihkan dasar sungai karena memakan lumut dan sisa organik. Namun di sisi lain, lingkungan hidupnya yang berada di perairan tercemar membuat ikan ini berpotensi membawa risiko kesehatan.

Fenomena konsumsi ikan sapu-sapu sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah warga memanfaatkan ikan ini sebagai sumber penghasilan karena ketersediaannya melimpah dan harga jualnya relatif murah. Daging ikan tersebut bahkan dilaporkan digunakan sebagai bahan campuran berbagai produk olahan, seperti bakso atau siomay, karena teksturnya yang padat dan mudah diolah.

Meski demikian, pemerintah mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati. Pakar kesehatan menegaskan bahwa ikan yang hidup di sungai tercemar berpotensi mengandung berbagai bakteri, parasit, hingga logam berat. Risiko ini tidak selalu hilang meski ikan dimasak dengan suhu tinggi.

Paparan logam berat seperti merkuri, timbal, arsen, dan kadmium menjadi kekhawatiran utama. Zat-zat ini dapat terakumulasi di tubuh manusia jika dikonsumsi secara rutin dalam jangka panjang. Dampaknya tidak main-main, mulai dari gangguan pencernaan, kerusakan ginjal, gangguan fungsi hati, hingga risiko penyakit kronis lainnya.

Selain logam berat, ikan dari perairan tercemar juga berpotensi membawa mikroorganisme berbahaya. Jika proses pengolahan tidak higienis, risiko infeksi dan keracunan makanan menjadi lebih tinggi. Karena itu, konsumsi ikan sapu-sapu hasil tangkapan liar dari sungai kota dinilai tidak aman untuk dijadikan pangan.

Pemerintah menegaskan bahwa secara biologis ikan sapu-sapu sebenarnya bisa dikonsumsi. Namun syaratnya harus berasal dari budidaya yang terkontrol serta telah melalui uji laboratorium keamanan pangan. Tanpa proses tersebut, keamanan ikan tidak dapat dipastikan.

Isu ini juga berdampak pada perilaku konsumen. Sebagian masyarakat kini menjadi lebih selektif dalam membeli makanan olahan, khususnya jajanan kaki lima berbahan ikan. Banyak pembeli mulai menanyakan bahan baku yang digunakan sebelum memutuskan membeli.

Transparansi pedagang menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan konsumen. Dengan informasi yang jelas mengenai bahan baku, masyarakat dapat menentukan pilihan makanan secara lebih aman.

Di tengah perdebatan yang berkembang, pemerintah mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap sumber pangan yang dikonsumsi. Edukasi mengenai keamanan pangan dinilai penting untuk mencegah risiko kesehatan jangka panjang.

Fenomena ikan sapu-sapu sebagai bahan makanan pun menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat saling berkaitan. Sungai yang tercemar tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai pangan manusia.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/