Jakarta – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap Oman terkait isu penguasaan Selat Hormuz bersama Iran. Pernyataan kontroversial itu muncul di tengah meningkatnya konflik kawasan dan negosiasi alot mengenai akses jalur pelayaran internasional paling penting di dunia.
Trump disebut menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional yang tidak boleh dikendalikan oleh negara mana pun. Ia juga memperingatkan Oman agar tidak ikut mendukung rencana Iran terkait pengaturan atau penarikan biaya terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut. Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengeluarkan ancaman militer yang langsung memicu sorotan dunia internasional.
Pernyataan tersebut muncul setelah media pemerintah Iran mengklaim adanya pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan navigasi dan kemungkinan kontrol bersama di Selat Hormuz. Namun Gedung Putih membantah adanya kesepakatan resmi dan menyebut laporan tersebut sebagai informasi yang tidak benar.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap harinya. Karena itu, setiap ancaman konflik di wilayah ini selalu berdampak langsung terhadap harga energi internasional dan stabilitas ekonomi global.
Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan Selat Hormuz memang menjadi titik panas konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi memanas sejak pecahnya perang besar antara kedua negara pada awal 2026 yang kemudian memicu serangkaian serangan drone, blokade laut, dan gangguan terhadap kapal dagang internasional.
Laporan internasional menyebut militer AS baru saja kembali melakukan serangan terhadap target drone Iran di sekitar Bandar Abbas. Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. Aksi saling serang tersebut memperburuk situasi gencatan senjata yang sebelumnya sempat disepakati kedua pihak.
Di sisi lain, Oman selama ini dikenal sebagai negara mediator yang cukup netral dalam konflik Timur Tengah. Negara tersebut beberapa kali menjadi perantara komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran. Karena itu, ancaman Trump terhadap Oman mengejutkan banyak pihak, mengingat hubungan kedua negara sebelumnya cukup dekat dalam bidang keamanan dan ekonomi.
Analis politik internasional menilai pernyataan Trump dapat memperbesar ketidakstabilan kawasan. Selain meningkatkan risiko konflik terbuka, ancaman tersebut juga berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia apabila aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali terganggu. Investor global kini terus memantau perkembangan situasi karena kawasan tersebut memegang peran vital dalam rantai pasok energi dunia.
Sementara itu, Iran tetap bersikeras bahwa mereka memiliki hak strategis atas keamanan wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz. Pemerintah Teheran juga menuduh Amerika Serikat sengaja meningkatkan tekanan militer demi mempertahankan dominasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Oman terkait ancaman terbaru Trump tersebut. Namun situasi ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian dunia internasional karena berpotensi memengaruhi keamanan global, perdagangan minyak, hingga stabilitas politik kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/




















