419755
Inggris Diguncang Gelombang PHK Besar, Perang AS-Iran Bikin Ribuan Orang Kehilangan Pekerjaan

Jakarta – Inggris tengah menghadapi tekanan ekonomi besar setelah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan krisis lapangan kerja mulai meluas di berbagai sektor industri. Situasi ini disebut dipicu oleh dampak konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat kondisi ekonomi global semakin tidak stabil.

Berdasarkan data terbaru dari Kantor Statistik Nasional Inggris atau Office for National Statistics (ONS), tingkat pengangguran di Inggris meningkat menjadi 5 persen pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan tekanan besar terhadap pasar tenaga kerja Inggris.

Tidak hanya itu, jumlah lowongan pekerjaan di Inggris juga mengalami penurunan signifikan. Dalam periode Februari hingga April 2026, jumlah lowongan kerja turun sekitar 28 ribu posisi atau 3,9 persen menjadi hanya 705 ribu lowongan. Jumlah tersebut menjadi yang terendah sejak April 2021.

Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown, menyebut sektor dengan upah rendah seperti perhotelan dan ritel menjadi yang paling terdampak oleh perlambatan ekonomi saat ini. Banyak perusahaan memilih menunda perekrutan pegawai baru karena khawatir terhadap kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian ekonomi global.

Konflik AS-Iran dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk situasi. Ketegangan geopolitik membuat harga energi global melonjak tajam, terutama minyak dan gas. Inggris yang memiliki biaya energi industri cukup tinggi akhirnya terkena dampak besar karena perusahaan harus mengeluarkan biaya produksi lebih mahal.

Ekonom dari ING, James Smith, memperingatkan bahwa jika konflik berlangsung lebih lama, perusahaan-perusahaan Inggris kemungkinan akan melakukan lebih banyak PHK untuk menekan pengeluaran. Ia menyebut tingkat pengangguran bahkan bisa naik hingga di atas 5,5 persen apabila harga energi terus bertahan tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Selain perang, dunia usaha di Inggris juga menghadapi tekanan dari kenaikan pajak ketenagakerjaan dan inflasi yang belum stabil. Kombinasi faktor tersebut membuat banyak pelaku usaha memilih mengurangi jumlah pegawai atau menahan ekspansi bisnis sementara waktu.

Pertumbuhan pendapatan pekerja di Inggris juga mulai melambat. Data ONS menunjukkan rata-rata pertumbuhan gaji turun menjadi 3,4 persen pada kuartal pertama 2026. Setelah disesuaikan dengan inflasi, kenaikannya hanya sekitar 0,3 persen. Kondisi ini menandakan daya beli masyarakat mulai melemah di tengah kenaikan biaya hidup.

Kepala Strategi Wealth Club, Susannah Streeter, mengatakan kondisi inflasi yang masih tinggi membuat Bank of England kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Langkah tersebut memang bertujuan menekan inflasi, tetapi di sisi lain berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memperburuk situasi ketenagakerjaan.

Dampak perang ternyata tidak hanya dirasakan Inggris. Iran sendiri dilaporkan mengalami krisis tenaga kerja besar akibat konflik dan blokade ekonomi. Sejumlah laporan menyebut jutaan pekerja kehilangan pekerjaan di sektor manufaktur, perdagangan, hingga ekonomi digital karena aktivitas bisnis terganggu.

Di Inggris, sektor manufaktur juga mulai menunjukkan tanda perlambatan. Sejumlah pengusaha mengeluhkan biaya energi yang melonjak drastis sehingga margin keuntungan semakin tertekan. Jika kondisi global tidak membaik, bukan tidak mungkin lebih banyak perusahaan akan melakukan efisiensi tenaga kerja dalam beberapa bulan mendatang.

Survei terbaru YouGov bahkan menunjukkan mayoritas warga Inggris khawatir konflik di Timur Tengah akan semakin memperburuk ekonomi domestik mereka. Banyak masyarakat mulai merasa tertekan oleh kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan ancaman kehilangan pekerjaan.

Krisis lapangan kerja yang kini melanda Inggris menjadi bukti bahwa konflik geopolitik global dapat memberikan efek domino besar terhadap ekonomi dunia. Jika perang AS-Iran terus memanas, ancaman PHK massal dan perlambatan ekonomi diperkirakan masih akan menghantui banyak negara dalam waktu dekat.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/