730x480-img-55832-ilustrasi-babi
Puluhan Babi Siap Panen di Buleleng Mati Mendadak, Peternak Diduga Diserang Virus ASF

Bali – Kasus kematian ternak babi kembali menggemparkan Bali. Sebanyak 25 ekor babi milik seorang peternak di Kabupaten Buleleng dilaporkan mati mendadak dalam waktu singkat. Hewan-hewan tersebut diketahui sudah mendekati masa panen, sehingga kejadian ini menyebabkan kerugian besar bagi peternak. Dugaan sementara mengarah pada serangan virus African Swine Fever (ASF), penyakit mematikan yang beberapa tahun terakhir menghantui peternakan babi di Bali.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus kematian ternak babi yang terjadi di sejumlah wilayah Bali dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, puluhan hingga ratusan ekor babi di wilayah Badung dan Gianyar juga dilaporkan mati mendadak dengan gejala serupa. Kondisi tersebut membuat para peternak semakin resah karena khawatir wabah ASF kembali meluas di Pulau Dewata.

Menurut informasi yang beredar, babi-babi di Buleleng awalnya mengalami penurunan nafsu makan, tubuh lemas, dan kesulitan berdiri sebelum akhirnya mati satu per satu. Gejala tersebut identik dengan infeksi African Swine Fever atau demam babi Afrika yang memiliki tingkat kematian sangat tinggi pada ternak babi. Virus ini diketahui tidak menyerang manusia, tetapi sangat berbahaya bagi populasi ternak karena belum memiliki obat maupun vaksin yang benar-benar efektif.

Peternak mengaku syok karena sebagian besar ternak yang mati sebenarnya sudah siap dijual. Dalam kondisi normal, babi-babi tersebut diperkirakan dapat memberikan keuntungan besar menjelang meningkatnya permintaan pasar. Namun, wabah mendadak membuat seluruh rencana panen gagal total dan menyebabkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Dinas pertanian setempat disebut telah menerima laporan terkait kematian ternak tersebut dan mulai melakukan pemeriksaan lapangan. Petugas kesehatan hewan juga turun langsung untuk mengecek kondisi kandang serta mengambil langkah pencegahan agar penyebaran virus tidak semakin luas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyemprotan disinfektan dan edukasi biosekuriti kepada para peternak.

Pemerintah daerah mengimbau peternak untuk lebih waspada terhadap pola penyebaran penyakit. Kebersihan kandang, kualitas pakan, hingga pembatasan lalu lintas ternak menjadi faktor penting untuk menekan risiko penularan. Penggunaan pakan sisa makanan restoran atau swill feeding juga disebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan potensi penyebaran penyakit apabila tidak diolah dengan benar.

Kasus ASF sendiri bukan pertama kali terjadi di Bali. Pada beberapa tahun terakhir, ribuan ekor babi di berbagai daerah seperti Karangasem, Bangli, dan Buleleng sempat mati akibat wabah serupa. Dampaknya tidak hanya memukul ekonomi peternak kecil, tetapi juga memengaruhi pasokan daging babi di Bali yang memiliki permintaan cukup tinggi, terutama untuk kebutuhan upacara adat dan sektor pariwisata.

Sejumlah peternak berharap pemerintah dapat memberikan bantuan dan pendampingan agar mereka mampu bangkit dari kerugian akibat wabah ini. Selain bantuan finansial, para peternak juga meminta adanya pengawasan lebih ketat terhadap lalu lintas ternak dan distribusi pakan guna mencegah penyebaran ASF yang lebih luas di Bali.

Hingga kini, pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kematian puluhan babi tersebut. Namun, kemunculan kembali kasus serupa di beberapa wilayah membuat kewaspadaan terhadap virus ASF kembali meningkat di kalangan peternak maupun pemerintah daerah.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/