ikan-sapu-sapu-san-antonio-river-authority-1776150992850
Darurat Sungai Jakarta! Ledakan Ikan Sapu-Sapu Picu Ancaman Ekosistem dan Kesehatan

Jakarta – Ledakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta kembali menjadi sorotan para peneliti dan pemerhati lingkungan. Spesies yang dikenal sebagai ikan invasif ini dinilai semakin mengancam keseimbangan ekosistem sungai sekaligus menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif karena mampu menggeser populasi ikan lokal. Selain itu, kemampuan reproduksi yang sangat tinggi membuat jumlahnya sulit dikendalikan. Ikan ini juga berpotensi membahayakan kesehatan karena diduga mengandung logam berat yang bisa berdampak negatif jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Fenomena ledakan populasi ini membuat para pakar menilai diperlukan strategi terpadu untuk mengatasinya. Pakar konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak, menegaskan bahwa pemberantasan ikan sapu-sapu tidak bisa dilakukan dengan satu cara saja. Upaya pengendalian harus menggabungkan pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis secara bersamaan.

Kemampuan reproduksi ikan sapu-sapu menjadi salah satu faktor utama mengapa populasinya meledak. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun. Bahkan, tingkat penetasan telurnya bisa mencapai 90 persen. Kondisi ini membuat populasi ikan tersebut meningkat sangat cepat di perairan Jakarta.

Para pakar juga menyoroti perlunya regulasi ketat terkait perdagangan ikan hias. Saat ini, ikan sapu-sapu masih banyak beredar di pasar ikan hias dan berpotensi dilepas ke perairan umum oleh masyarakat. Edukasi publik dinilai penting agar masyarakat tidak sembarangan melepas ikan peliharaan ke sungai atau danau karena dapat merusak ekosistem.

Selain regulasi, penangkapan ikan sapu-sapu secara selektif dinilai menjadi langkah penting. Pakar menyarankan agar penangkapan difokuskan pada ikan berukuran kecil di bawah 30 cm, karena cara ini lebih efektif untuk menekan populasi jangka panjang. Pelibatan masyarakat dalam program penangkapan berbasis komunitas di sepanjang aliran sungai juga dianggap sangat diperlukan.

Teknologi modern turut menjadi solusi potensial. Penggunaan metode environmental DNA (eDNA) dapat membantu mendeteksi keberadaan ikan sapu-sapu sejak dini sebelum populasinya semakin meningkat. Dengan deteksi awal, tindakan pengendalian dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Metode kontrol biologis juga menjadi opsi lain yang dinilai efektif. Beberapa ikan lokal seperti ikan baung dan betutu dapat berperan sebagai predator alami ikan sapu-sapu, khususnya pada fase juvenil atau saat masih kecil. Ledakan populasi di sungai Jakarta terjadi karena tidak adanya predator alami seperti di habitat aslinya di Sungai Amazon.

Meski kerap dimanfaatkan sebagai bahan pangan di beberapa daerah, pakar mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu dari perairan tercemar tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi. Kandungan logam berat berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Dengan berbagai ancaman yang ditimbulkan, kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Tanpa langkah terpadu, ledakan populasi spesies invasif ini dikhawatirkan akan semakin memperparah kerusakan ekosistem perairan Jakarta.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/