BEKASI – Meja-meja pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional di wilayah Bekasi terpantau kosong pada Kamis (22/1/2026). Para pedagang memutuskan untuk melakukan aksi mogok jualan sebagai bentuk protes terhadap lonjakan harga daging sapi dari tingkat pemasok yang dinilai sudah tidak wajar.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui dinas terkait langsung melakukan pemantauan lapangan dan menyatakan akan membawa keluhan para pedagang ini ke tingkat pemerintah pusat.
Dampak Harga Tinggi bagi Pedagang dan Konsumen
Aksi mogok ini merupakan buntut dari kesulitan pedagang dalam menentukan harga jual kepada konsumen. Kenaikan harga modal yang terus merangkak naik membuat omzet pedagang menurun drastis karena daya beli masyarakat yang ikut tertekan.

Beberapa poin utama penyebab aksi mogok di Bekasi meliputi:
-
Harga Modal Melambung: Harga karkas di tingkat rumah potong hewan (RPH) mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
-
Kekosongan Stok di Pasar: Warga Bekasi mulai kesulitan mendapatkan daging sapi segar, yang berdampak pada pelaku usaha kuliner seperti tukang bakso dan rumah makan.
-
Tuntutan Intervensi: Pedagang mendesak adanya langkah nyata dari pemerintah untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan pasokan.
Respons Pemkot Bekasi: Koordinasi Lintas Sektoral
Pemkot Bekasi menegaskan bahwa mereka tidak tinggal diam melihat kondisi pasar yang lumpuh. Mengingat kebijakan harga daging dan izin impor berada di ranah nasional, Pemkot berperan sebagai jembatan aspirasi bagi para pedagang lokal.
“Kami sudah mendata keluhan rekan-rekan pedagang di Bekasi. Aspirasi ini kami sampaikan secara resmi ke Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian agar segera ada langkah intervensi atau operasi pasar berskala nasional,” ungkap perwakilan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bekasi.
Upaya Menjaga Stabilitas Pangan Daerah
Sembari menunggu respons pusat, Pemkot Bekasi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mencari alternatif protein lain untuk sementara waktu. Pihak dinas juga akan terus memantau apakah kenaikan ini disebabkan oleh kendala distribusi global atau adanya praktik penimbunan di tingkat oknum distributor.
Stabilitas harga pangan di Bekasi menjadi krusial, mengingat wilayah ini merupakan salah satu pusat konsumsi daging terbesar di Jawa Barat. Kejelasan langkah dari pemerintah pusat sangat dinantikan agar para pedagang dapat kembali beraktivitas dan rantai ekonomi lokal kembali pulih.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























