Jakarta – Bagi sebagian pemilik hewan peliharaan, tidur bersama kucing menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Tingkah kucing yang menggemaskan dan kehadirannya di tempat tidur bahkan dapat memberikan rasa nyaman sebelum tidur. Namun, muncul pertanyaan: apakah kebiasaan tersebut benar-benar aman bagi kesehatan?
Secara umum, tidur bersama kucing tidak otomatis membahayakan kesehatan. Risiko penularan penyakit dari hewan peliharaan tergolong rendah apabila kucing mendapatkan perawatan yang baik. Namun, tetap ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, terutama terkait alergi, kebersihan, parasit, dan kualitas tidur.
Salah satu masalah yang dapat muncul adalah alergi. Bulu bukan satu-satunya pemicu alergi kucing. Protein yang terdapat pada serpihan kulit, air liur, dan urine kucing dapat menjadi alergen. Paparan dalam jarak dekat ketika tidur berpotensi membuat gejala seperti bersin, hidung tersumbat, mata berair, batuk, hingga gangguan pernapasan menjadi lebih terasa pada orang yang sensitif.
Kucing juga dapat membawa sejumlah kuman dan parasit meskipun terlihat bersih dan sehat. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kucing dapat membawa berbagai organisme yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia, termasuk toksoplasmosis, kurap, cacing gelang, infeksi akibat cakaran, serta beberapa penyakit lainnya.
Risiko tersebut bukan berarti pemilik kucing harus berhenti berinteraksi dengan hewan kesayangannya. Perawatan rutin justru menjadi salah satu cara penting untuk menjaga kesehatan manusia dan hewan. Kucing sebaiknya mendapatkan pemeriksaan dokter hewan secara berkala, vaksinasi sesuai kebutuhan, serta perlindungan terhadap kutu, caplak, dan parasit lainnya.
Kebersihan tempat tidur juga tidak kalah penting. Sprei, sarung bantal, dan selimut yang sering digunakan bersama kucing sebaiknya dicuci secara rutin. Pemilik juga dianjurkan mencuci tangan setelah menangani kucing, makanan atau perlengkapannya, serta setelah membersihkan kotak pasir. CDC secara khusus menyarankan agar kotak pasir dibersihkan secara rutin dan tangan dicuci setelahnya.
Selain risiko penyakit, tidur bersama kucing ternyata juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Kucing memiliki pola aktivitas yang berbeda dengan manusia dan dapat menjadi lebih aktif pada waktu tertentu ketika pemilik sedang tidur. Pergerakan atau aktivitas kucing di tempat tidur berpotensi membuat seseorang terbangun dan mengurangi kualitas istirahat.
Penelitian mengenai tidur bersama hewan peliharaan juga menunjukkan bahwa kehadiran hewan di kamar dapat memberikan efek yang berbeda pada setiap orang. Sebagian pemilik merasa kehadiran hewan memberikan rasa nyaman, sementara sebagian lainnya justru merasa tidurnya terganggu.
Kelompok tertentu juga perlu lebih berhati-hati. Anak kecil, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, serta mereka yang memiliki alergi atau asma sebaiknya mempertimbangkan kembali kebiasaan tidur satu ranjang dengan hewan peliharaan. CDC mencatat bahwa orang dengan kondisi tersebut dapat lebih rentan terhadap dampak kuman yang dibawa hewan.
Jika ingin tetap dekat dengan kucing tetapi khawatir terhadap kebersihan atau kualitas tidur, salah satu pilihan adalah menyediakan tempat tidur khusus untuk kucing di dekat tempat tidur pemilik. Dengan cara ini, pemilik tetap dapat menikmati kehadiran hewan kesayangannya tanpa harus selalu berbagi kasur.
Pada akhirnya, tidur bersama kucing bukan sesuatu yang secara otomatis berbahaya. Kuncinya adalah memastikan kucing sehat, mendapatkan perawatan dokter hewan secara rutin, bebas dari parasit, serta menjaga kebersihan lingkungan dan tempat tidur. Jika muncul gejala alergi, gangguan pernapasan, atau masalah kesehatan lainnya setelah tidur bersama kucing, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























