849168_1200
Harga CPO Melesat ke Level Tertinggi, El Niño Mulai Bayangi Pasokan Minyak Sawit

Jakarta – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali mencuri perhatian pasar komoditas global. Pada perdagangan Kamis (20/8/2026), harga kontrak minyak sawit Malaysia sempat melonjak hingga RM4.927 per ton. Level tersebut menjadi yang tertinggi secara intraday sejak Desember 2024.

Kenaikan harga CPO terjadi ketika pasar mulai memperhitungkan sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak nabati dunia. Salah satu faktor yang paling banyak mendapat perhatian adalah perkembangan fenomena El Niño yang diperkirakan dapat membawa kondisi lebih panas dan kering di sejumlah wilayah Asia Tenggara.

El Niño menjadi perhatian khusus bagi industri kelapa sawit karena perubahan pola cuaca dapat memengaruhi produktivitas perkebunan. Kondisi panas dan kekeringan yang berkepanjangan berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman serta produksi tandan buah segar.

Namun, dampak El Niño terhadap produksi tidak selalu terjadi secara langsung. SD Guthrie, salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di Malaysia, sebelumnya memperkirakan dampak El Niño terhadap produksi kemungkinan lebih terasa pada 2027 dan 2028. Perusahaan tersebut menyebut efek cuaca terhadap hasil perkebunan dapat mengalami jeda sekitar 12 hingga 16 bulan.

Meski begitu, kekhawatiran terhadap pasokan di masa mendatang sudah mulai tercermin dalam pergerakan harga. Pelaku pasar cenderung mengantisipasi kemungkinan berkurangnya produksi dengan memasukkan risiko cuaca ke dalam harga komoditas.

Selain faktor cuaca, meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk bahan bakar nabati turut menjadi pendorong harga. Permintaan biodiesel yang lebih tinggi membuat sebagian produksi minyak sawit terserap untuk kebutuhan energi, sehingga jumlah yang tersedia untuk pasar pangan dan ekspor dapat menjadi lebih terbatas.

Faktor eksternal juga ikut memperkuat sentimen pasar. Gangguan terhadap pengiriman minyak nabati dari kawasan Laut Hitam membuat sejumlah pembeli mencari alternatif dari jenis minyak nabati lainnya. Kondisi tersebut memberikan dukungan tambahan bagi harga minyak sawit.

Permintaan dari negara importir besar juga menjadi perhatian. India, misalnya, mencatat lonjakan impor minyak nabati pada Juli 2026. Impor minyak sawit India mencapai sekitar 730.965 ton, meningkat 50 persen dibandingkan Juni dan menjadi level tertinggi dalam lima bulan. Kenaikan tersebut berkaitan dengan persiapan kebutuhan menjelang musim festival di India.

Di sisi lain, tingginya harga CPO belum tentu berlangsung tanpa hambatan. Data industri menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia pada Juli masih meningkat dan mencapai sekitar 2,62 juta ton. Kondisi stok tersebut dapat menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga jika pasokan ternyata lebih besar dari perkiraan pasar.

Meski demikian, prospek harga CPO dalam beberapa bulan ke depan masih dinilai kuat. Malaysian Palm Oil Council memperkirakan harga CPO dapat bertahan di atas RM4.600 per ton pada September karena kondisi pasokan yang semakin ketat dan sejumlah gangguan perdagangan global.

Bagi Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen utama minyak sawit dunia, perkembangan harga CPO menjadi sangat penting. Perubahan harga global dapat berdampak pada pendapatan industri perkebunan, petani sawit, ekspor, hingga kebijakan biodiesel domestik.

Dengan kombinasi risiko El Niño, peningkatan kebutuhan biodiesel, permintaan dari negara importir, dan gangguan pasokan minyak nabati global, pergerakan harga CPO diperkirakan masih akan menjadi perhatian pasar dalam beberapa bulan mendatang.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/