R (8)
Siomai dari Ikan Sapu-Sapu Viral, Pakar Ungkap Risiko Kesehatan yang Mengintai

Jakarta – Belakangan ini publik kembali dihebohkan dengan kabar ikan sapu-sapu yang diduga diolah menjadi siomai. Isu ini memicu kekhawatiran masyarakat soal keamanan pangan, terutama karena ikan sapu-sapu dikenal hidup di perairan yang sering tercemar limbah.

Ikan sapu-sapu sebenarnya bukan jenis ikan yang sepenuhnya dilarang untuk dikonsumsi. Secara teknis, dagingnya bisa dimakan. Namun, faktor habitat menjadi perhatian utama para ahli kesehatan pangan. Ikan ini hidup di dasar sungai dan mencari makan di lumpur, sedimen, serta area yang sering menjadi tempat berkumpulnya sampah dan limbah. Kondisi tersebut membuat risiko kontaminasi jauh lebih tinggi dibandingkan ikan yang hidup di perairan bersih.

Kekhawatiran meningkat setelah muncul laporan penangkapan sejumlah pria yang mengambil ikan sapu-sapu dari bantaran Kali Ciliwung dan diduga akan mengolahnya menjadi siomai. Peristiwa ini memicu diskusi luas mengenai potensi dampak kesehatan jika ikan tersebut benar-benar dikonsumsi masyarakat.

Risiko bakteri dan parasit

Salah satu bahaya utama berasal dari kemungkinan kontaminasi bakteri. Ikan sapu-sapu hidup di area yang sarat kotoran dan mikroorganisme, sehingga rentan terpapar bakteri berbahaya. Hasil uji laboratorium yang beredar menunjukkan kandungan bakteri E. coli pada sampel ikan sapu-sapu bisa mencapai 100 kali lipat di atas batas Standar Nasional Indonesia.

Paparan bakteri E. coli dapat memicu gangguan pencernaan seperti diare, mual, muntah, kram perut, hingga demam. Risiko ini lebih tinggi pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah karena dapat menyebabkan dehidrasi serius.

Ancaman logam berat

Selain bakteri, bahaya lain berasal dari kandungan logam berat. Penelitian dalam jurnal ilmiah menemukan ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung mengandung arsenik, kadmium, kromium, merkuri, timbal, dan seng. Zat-zat tersebut dapat berasal dari limbah industri, sampah rumah tangga, hingga emisi kendaraan yang mencemari sungai.

Paparan logam berat tidak selalu menimbulkan gejala langsung setelah satu kali konsumsi. Namun jika dikonsumsi berulang, zat tersebut dapat menumpuk di tubuh. Timbal dikaitkan dengan gangguan saraf dan tekanan darah, sementara kadmium dapat memengaruhi fungsi ginjal.

Risiko keracunan makanan

Masalah tidak berhenti pada bahan mentah. Proses pengolahan juga berperan besar dalam menentukan keamanan makanan. Ikan dari perairan tercemar membutuhkan pembersihan yang sangat ketat. Jika bagian tubuh yang terkontaminasi tidak dibersihkan dengan benar, bakteri masih bisa tertinggal dan menyebar saat diolah menjadi makanan seperti siomai atau bakso ikan.

Pada produk olahan giling, kontaminasi dapat menyebar ke seluruh adonan. Jika proses pemanasan tidak merata, risiko keracunan makanan menjadi semakin tinggi.

Gangguan pencernaan berulang

Tubuh biasanya memberikan sinyal pertama melalui gangguan saluran cerna. Konsumsi makanan yang terkontaminasi dapat memicu perut mulas, kembung, mual, muntah, atau diare dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah konsumsi. Jika terjadi berulang, kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit yang berbahaya, terutama bagi kelompok rentan.

Para ahli menegaskan, keamanan ikan sangat bergantung pada sumber perairannya. Ikan dari lingkungan bersih dan proses pengolahan higienis relatif aman dikonsumsi. Namun jika berasal dari sungai perkotaan yang tercemar, risiko kesehatan tidak bisa diabaikan.

Isu ikan sapu-sapu yang diolah menjadi makanan populer seperti siomai menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih sumber pangan. Keamanan makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga menyangkut kesehatan jangka panjang.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/