201912171646-main
Bos Minyak Beri Peringatan Keras: Cadangan BBM Dunia Menipis, Krisis Energi Makin Nyata

Jakarta – Krisis bahan bakar minyak (BBM) global disebut telah memasuki tahap yang semakin serius. Para petinggi industri minyak memperingatkan bahwa dunia kini mulai kehabisan “bantalan” pasokan yang selama beberapa bulan terakhir masih mampu menahan dampak gangguan distribusi minyak akibat konflik geopolitik.

Peringatan tersebut salah satunya disampaikan CEO Chevron, Mike Wirth. Dalam konferensi energi di Austin, Texas, Wirth menilai berbagai mekanisme yang sebelumnya membantu meredam tekanan terhadap harga dan pasokan minyak kini mulai kehilangan efektivitas. Menurutnya, persediaan BBM komersial di berbagai negara telah terkuras selama lebih dari enam bulan.

Wirth juga menilai situasi harga minyak belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membaik. Ia mengatakan sulit melihat alasan yang dapat membuat kondisi pasar kembali normal dalam waktu dekat.

Salah satu pemicu utama krisis adalah terganggunya jalur perdagangan minyak di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan telah membuat aktivitas pengiriman melalui sejumlah jalur strategis menjadi jauh lebih berisiko. Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur penting perdagangan energi dunia, juga masih menghadapi gangguan.

Kondisi semakin memburuk setelah serangan terhadap jaringan pipa minyak utama Arab Saudi. Jalur tersebut selama ini menjadi alternatif untuk mengalirkan minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz. Gangguan pada pipa tersebut diperkirakan membuat sekitar 2,5 juta barel minyak per hari tidak dapat masuk ke pasar global.

Dampaknya mulai terasa pada harga produk BBM. Di Amerika Serikat, harga rata-rata diesel telah mencapai sekitar 6,23 dollar AS per galon, menjadi salah satu level tertinggi yang pernah tercatat. Harga bensin reguler juga kembali naik hingga sekitar 4,32 dollar AS per galon.

Laporan International Energy Agency (IEA) sebelumnya juga menunjukkan tekanan serius pada pasar minyak dunia. IEA memperkirakan pasokan minyak global pada 2026 dapat turun sekitar 5,7 juta barel per hari atau sekitar 6 persen akibat gangguan di Timur Tengah. Pada saat yang sama, stok minyak global terus terkuras.

Situasi tersebut bukan hanya berpotensi membuat harga BBM semakin mahal. Kelangkaan diesel, misalnya, dapat memberikan efek berantai karena bahan bakar tersebut digunakan secara luas untuk kendaraan logistik, industri, alat berat, pertanian, hingga sejumlah pembangkit.

Kenaikan biaya energi juga berisiko mendorong inflasi. Biaya transportasi dan distribusi barang dapat meningkat ketika harga diesel melonjak, sehingga pada akhirnya konsumen berpotensi menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan.

Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat masih menilai gangguan tersebut dapat bersifat sementara. Pemerintah AS tengah mempertimbangkan sejumlah langkah untuk meningkatkan pasokan, termasuk mendorong produksi minyak Venezuela serta meningkatkan kapasitas pengolahan BBM domestik.

Namun, para pelaku industri minyak menilai persoalannya tidak sederhana. Dengan persediaan yang semakin menipis dan sejumlah fasilitas energi masih menghadapi ancaman serangan, pemulihan pasokan global membutuhkan waktu.

Jika gangguan terus berlangsung, tekanan terhadap harga minyak dan BBM dunia berpotensi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut membuat krisis energi kembali menjadi perhatian utama pemerintah dan pelaku ekonomi di berbagai negara.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/