649058661bd8a
Susu Kecoa Ternyata Super Bernutrisi, Ilmuwan Raih Ig Nobel 2026

Jakarta – Susu kecoa mungkin terdengar menjijikkan bagi sebagian orang. Namun, di balik sumber makanan yang tidak biasa tersebut, ilmuwan menemukan fakta menarik mengenai kandungan nutrisinya. Penelitian tentang susu yang dihasilkan salah satu spesies kecoa bahkan berhasil membawa tim peneliti meraih Ig Nobel Prize bidang Kimia 2026.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Ramaswamy Subramanian dari Purdue University, Leonard “Leo” Chavas dari DECTRIS Japan, dan Nathan Coussens dari Frederick National Laboratory for Cancer Research. Ketiganya mendapatkan penghargaan atas penelitian mengenai bagaimana kecoa jenis tertentu menyediakan nutrisi bagi embrio yang berkembang di dalam tubuh induknya.

Spesies yang menjadi objek penelitian adalah Diploptera punctata, yang dikenal sebagai Pacific beetle cockroach. Berbeda dengan sebagian besar spesies kecoa, hewan ini bersifat vivipar, sehingga anaknya berkembang di dalam tubuh induk dan memperoleh nutrisi dari induknya.

Nutrisi tersebut berasal dari cairan yang kerap disebut sebagai “susu kecoa”. Cairan ini dihasilkan di dalam tubuh induk dan dikonsumsi embrio yang sedang berkembang. Setelah dikonsumsi, komponen nutrisinya terkonsentrasi di dalam saluran pencernaan embrio dan membentuk kristal protein berukuran sangat kecil.

Para peneliti kemudian menggunakan teknik kristalografi sinar-X untuk mempelajari struktur kristal tersebut hingga tingkat atom. Penelitian ini membantu ilmuwan memahami bagaimana protein, lipid, karbohidrat, dan komponen lainnya tersusun dalam bentuk yang sangat padat sehingga dapat menjadi sumber energi bagi embrio kecoa.

Salah satu temuan yang paling menarik adalah kepadatan energinya. Kristal protein dari susu Diploptera punctata diperkirakan memiliki kandungan energi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan protein susu sapi dengan massa yang setara. Karakteristik tersebut membuat susu kecoa menjadi salah satu bahan biologis yang sangat menarik untuk dipelajari dari perspektif biokimia dan struktur protein.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti manusia akan segera mengonsumsi susu kecoa sebagai pengganti susu sapi. Penelitian ini terutama berfokus pada bagaimana alam menyimpan dan menyediakan nutrisi bagi embrio kecoa, bukan mengembangkan produk susu untuk konsumsi manusia.

Penelitian yang akhirnya mendapatkan penghargaan pada 2026 tersebut sebenarnya telah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya. Studi mengenai struktur kristal protein susu Diploptera punctata telah dipublikasikan pada 2016 di jurnal IUCrJ. Proses penelitian yang panjang menunjukkan bahwa di balik topik yang terdengar unik terdapat kajian ilmiah serius mengenai struktur protein dan mekanisme penyimpanan energi.

Ig Nobel Prize sendiri berbeda dengan Hadiah Nobel. Penghargaan ini diberikan setiap tahun oleh Improbable Research untuk penelitian yang awalnya dapat membuat orang tertawa, tetapi kemudian mendorong mereka untuk berpikir. Pada 2026, penghargaan tersebut diberikan kepada 10 penelitian dalam berbagai bidang.

Selain penelitian susu kecoa, Ig Nobel 2026 juga memberikan penghargaan untuk berbagai riset unik, seperti penelitian mengenai cara meniup hidung, penggunaan probosis nyamuk sebagai nozzle printer 3D, hingga penggunaan celana dalam yang dikubur untuk mengukur kesehatan tanah.

Dengan demikian, susu kecoa bukan sekadar cerita unik tentang serangga. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa fenomena yang tampak aneh di alam dapat membuka peluang untuk memahami mekanisme biologis yang sangat kompleks. Inilah salah satu alasan riset tersebut akhirnya mendapat perhatian dunia melalui Ig Nobel Prize 2026.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/