Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, masih menjadi perhatian. Meski api secara visual telah berhasil dipadamkan, petugas masih menemukan bara dan titik asap yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
Kebakaran tersebut melanda area sekitar 10,65 hektare di RT 03 Kelurahan Sepan. Peristiwa pertama kali terdeteksi pada Rabu (19/8/2026) dan membuat tim gabungan harus bekerja hingga malam untuk mengendalikan api. Material yang terbakar meliputi semak belukar, pepohonan, serta tumpukan kayu di lahan mineral.
Informasi awal mengenai kebakaran diperoleh setelah sistem pemantauan Lembuswana mendeteksi sinyal titik panas sekitar pukul 10.00 Wita. Petugas kemudian melakukan pengecekan ke lokasi. Sekitar pukul 13.15 Wita, ditemukan sejumlah titik api yang telah meluas.
Laporan mengenai kejadian tersebut kemudian diterima Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD PPU sekitar pukul 13.23 Wita. Tim gabungan langsung dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan mencegah api menjalar ke area lain.
Kepala Pelaksana BPBD PPU Nurlaila mengatakan proses pemadaman dan pendinginan berlangsung hingga sekitar tengah malam. Secara visual, api memang sudah tidak terlihat, tetapi masih ditemukan bara yang menyala dan beberapa titik asap. Kondisi tersebut membuat petugas kembali melakukan penyisiran dan pendinginan pada hari berikutnya.
Penanganan kemudian berfokus pada proses pendinginan atau cooling down. Petugas menyisir area yang terbakar untuk menemukan bara yang masih tersisa di antara kayu, semak, dan material lain. Langkah ini penting karena bara yang tertinggal dapat kembali menjadi titik api, terutama ketika kondisi lahan kering dan angin bertiup.
Dalam penanganan lanjutan, tim gabungan menggunakan mesin pompa portabel dengan sumber air dari sungai atau danau di sekitar lokasi. Penyemprotan dilakukan mulai dari bagian pinggir hingga area dalam lahan yang terbakar.
Sejumlah unsur turut terlibat dalam penanganan karhutla tersebut. Di antaranya BPBD PPU, Brigade Karlabun Dinas Pertanian, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Bongan, Kelompok Masyarakat Peduli Api (KTPA) Bongan, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.
Selain melakukan pemadaman, petugas juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya kebakaran baru. Pemerintah setempat mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah yang kondisi lahannya mudah terbakar.
Lurah Sepan Adhitya Perdana Kusumah mengatakan pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan para ketua RT untuk memantau kawasan yang dianggap rawan. Edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran lahan juga telah dilakukan sebelumnya.
Kekhawatiran terhadap karhutla di Kalimantan semakin besar karena sejumlah wilayah sedang menghadapi peningkatan titik panas. BNPB melaporkan terdapat 1.487 titik panas di Kalimantan berdasarkan pemantauan satelit NOAA-20 hingga 20 Agustus 2026. Konsentrasi tertinggi tercatat di Kalimantan Tengah, disusul Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Untuk kasus di PPU, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Penyebab kebakaran juga masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Tim gabungan terus memantau lokasi untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali berkembang menjadi titik api.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting. Dengan cuaca kering dan banyaknya material mudah terbakar, api kecil dapat dengan cepat meluas apabila tidak segera ditangani.
Pemerintah daerah bersama petugas gabungan pun terus mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api. Deteksi dini dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah karhutla meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























