7cd39e0080c8896c51541a69be4d1e9c
Redam Lonjakan Harga Energi, AS Buka Akses Sementara Pembelian Minyak Rusia di Laut

Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak biasa dalam upaya menstabilkan pasar energi global. Washington memberikan izin sementara bagi sejumlah negara untuk membeli minyak mentah Rusia yang saat ini berada di laut. Kebijakan tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dunia.

Departemen Keuangan Amerika Serikat mengeluarkan lisensi khusus yang memungkinkan negara-negara membeli minyak dan produk minyak bumi Rusia yang telah dimuat di kapal sebelum 12 Maret 2026. Izin tersebut berlaku selama 30 hari, tepatnya hingga 11 April 2026, dan bertujuan untuk meredakan tekanan di pasar energi global.

Kebijakan ini muncul setelah konflik di kawasan Timur Tengah memicu gangguan serius pada jalur distribusi energi dunia. Perang yang melibatkan Iran serta sekutunya menyebabkan gangguan pengiriman minyak di kawasan Teluk Persia, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan minyak global.

Situasi tersebut membuat harga minyak dunia melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melampaui 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global.

Setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tersebut, pasar energi mulai menunjukkan reaksi. Harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan karena kekhawatiran pasar terhadap kekurangan pasokan sedikit mereda. Harga minyak Brent turun menjadi sekitar 99,75 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun menjadi sekitar 94,85 dolar AS per barel.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah terbatas dan bersifat sementara. Menurutnya, izin pembelian minyak Rusia yang berada di laut tidak dimaksudkan untuk memberikan keuntungan ekonomi besar kepada Rusia, melainkan semata-mata untuk menjaga stabilitas pasar energi dunia.

Selain mengeluarkan izin tersebut, pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah lain untuk menekan kenaikan harga energi. Salah satunya adalah rencana pelepasan cadangan minyak strategis dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) dalam jumlah besar untuk menambah pasokan global.

Meski demikian, kebijakan ini menimbulkan perdebatan di kalangan negara Barat. Beberapa pihak menilai pelonggaran pembelian minyak Rusia berpotensi melemahkan upaya sanksi internasional terhadap Rusia yang diberlakukan sejak konflik Rusia-Ukraina.

Sejak 2022, negara-negara G7 dan Uni Eropa memang menerapkan berbagai sanksi terhadap ekspor minyak Rusia sebagai respons terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Kebijakan tersebut bertujuan menekan pendapatan energi Rusia sekaligus menjaga stabilitas pasokan minyak global.

Namun, krisis energi yang dipicu konflik Timur Tengah membuat pemerintah Amerika Serikat harus mengambil langkah cepat untuk menstabilkan pasar. Gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi global.

Para analis energi menilai kebijakan ini kemungkinan hanya memberikan dampak jangka pendek terhadap stabilitas harga minyak. Selama konflik geopolitik di Timur Tengah belum mereda dan jalur pengiriman minyak global masih terganggu, pasar energi dunia diperkirakan tetap berada dalam kondisi tidak stabil.

Meski begitu, langkah Amerika Serikat membuka akses sementara pembelian minyak Rusia menunjukkan betapa kompleksnya dinamika geopolitik energi global. Di tengah tekanan krisis pasokan, stabilitas harga energi menjadi prioritas utama bagi banyak negara untuk menjaga kestabilan ekonomi dunia.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/