Jakarta – Banyak orang tua merasa heran ketika melihat anak bersikap berbeda kepada ayah dan ibu. Di depan ibu, anak bisa terlihat manja, sensitif, atau mudah menangis. Namun ketika bersama ayah, anak justru tampak lebih mandiri, santai, bahkan lebih berani. Fenomena ini ternyata bukan hal aneh dan justru dianggap wajar oleh psikolog perkembangan anak.
Dilansir dari , perbedaan sikap anak terhadap ayah dan ibu dipengaruhi oleh dinamika peran, kedekatan emosional, hingga cara komunikasi yang berbeda antara kedua orang tua.
Psikolog menjelaskan bahwa sejak bayi, anak biasanya memiliki kedekatan emosional lebih kuat dengan ibu. Hal ini karena ibu cenderung menjadi figur utama dalam pengasuhan awal, mulai dari menyusui, menenangkan saat menangis, hingga menemani anak tidur. Ikatan emosional ini membuat anak merasa ibu adalah “zona aman” untuk mengekspresikan semua emosi, termasuk emosi negatif seperti marah, cemburu, atau sedih.
Akibatnya, anak sering terlihat lebih manja atau rewel di hadapan ibu. Bukan karena anak lebih “nakal” kepada ibu, tetapi karena mereka merasa paling aman untuk menunjukkan sisi rentan mereka. Anak tahu bahwa ibu akan tetap menerima mereka apa pun emosinya.
Sebaliknya, ayah sering dipersepsikan sebagai figur yang mengajarkan kemandirian, keberanian, dan eksplorasi. Banyak penelitian parenting menunjukkan ayah cenderung mengajak anak bermain fisik, mencoba hal baru, serta mendorong anak mengambil risiko yang aman. Interaksi ini membentuk persepsi anak bahwa bersama ayah, mereka harus tampil lebih kuat atau berani.
Perbedaan gaya komunikasi juga ikut memengaruhi. Ibu umumnya lebih ekspresif secara emosional, sering menanyakan perasaan anak, dan memberikan empati. Sementara ayah lebih sering menggunakan pendekatan problem-solving atau solusi praktis. Anak akhirnya menyesuaikan cara berkomunikasi mereka sesuai dengan respons yang biasa diterima dari masing-masing orang tua.
Psikolog menegaskan bahwa perbedaan ini tidak menunjukkan bahwa anak lebih menyayangi salah satu orang tua. Justru sebaliknya, perbedaan sikap ini menandakan anak merasa aman dan memiliki ikatan yang sehat dengan keduanya. Anak belajar bahwa setiap orang memiliki cara berinteraksi yang berbeda, dan mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial sejak dini.
Namun demikian, penting bagi orang tua untuk menjaga keseimbangan peran. Ayah tetap perlu membangun kedekatan emosional, sementara ibu juga perlu memberi ruang bagi anak untuk belajar mandiri. Ketika kedua orang tua saling melengkapi, anak akan tumbuh dengan keseimbangan emosi, empati, dan kepercayaan diri yang baik.
Para ahli juga mengingatkan orang tua agar tidak membandingkan atau merasa tersaingi oleh kedekatan anak dengan pasangan. Alih-alih cemburu, orang tua sebaiknya melihat hal ini sebagai tanda bahwa anak memiliki sistem dukungan yang kuat dalam keluarga.
Pada akhirnya, anak yang bersikap berbeda pada ayah dan ibu bukanlah masalah, melainkan bagian dari proses perkembangan sosial dan emosional yang sehat. Dengan memahami hal ini, orang tua dapat lebih bijak menyikapi perilaku anak dan menciptakan pola pengasuhan yang harmonis di rumah.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























