Jakarta – Rencana besar Mark Zuckerberg untuk mengubah Meta menjadi perusahaan yang semakin bergantung pada kecerdasan buatan (AI) justru menghadapi berbagai masalah. Strategi yang awalnya dirancang untuk membuat pekerjaan lebih efisien dengan bantuan agen AI tersebut akhirnya harus dikurangi setelah muncul persoalan teknis, penolakan internal, hingga produktivitas yang tidak sesuai harapan.
Rencana tersebut dikenal dengan nama Project OT, singkatan dari Organization Transformation. Program ini dirancang pada awal 2026 sebagai bagian dari upaya Meta membangun organisasi yang lebih “AI native”. Dalam skenario tersebut, sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan karyawan manusia akan dialihkan kepada agen AI. Tim-tim di Meta juga direncanakan menjadi lebih kecil dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit.
Menurut laporan Reuters, beberapa tim bahkan diproyeksikan mengalami pengurangan ukuran hingga 60 persen. Meta berharap penggunaan AI dapat memungkinkan kelompok karyawan yang lebih kecil menangani pekerjaan dalam jumlah lebih besar, sementara agen AI menjalankan berbagai tugas secara otomatis.
Namun, implementasi rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Meta menghadapi berbagai kendala ketika teknologi AI mulai digunakan dalam skala yang lebih besar. Alih-alih langsung meningkatkan produktivitas, penggunaan agen AI justru menimbulkan persoalan operasional yang membutuhkan lebih banyak perhatian dari karyawan manusia.
Salah satu dampaknya terlihat dari meningkatnya gangguan teknis pada sistem Meta. Reuters melaporkan jumlah insiden besar atau site reliability emergencies meningkat sekitar 40 persen. Pada saat yang sama, waktu yang dihabiskan karyawan untuk menangani atau memperbaiki masalah tersebut meningkat sekitar 70 persen. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa rencana transformasi berbasis AI harus dievaluasi kembali.
Masalah lainnya datang dari dalam perusahaan. Sebagian karyawan mempertanyakan perubahan organisasi yang dianggap terlalu cepat. Kekhawatiran bahwa AI akan mengambil alih pekerjaan manusia juga memicu keresahan di kalangan pekerja Meta.
Pada Mei 2026, Meta tetap melakukan restrukturisasi dan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya atau sekitar 8.000 posisi. Namun, Zuckerberg kemudian menghentikan rencana pemangkasan besar berikutnya yang sebelumnya dipersiapkan untuk tahap selanjutnya.
Keputusan tersebut menjadi tanda bahwa Meta mulai lebih berhati-hati dalam menerapkan strategi penggantian pekerjaan manusia dengan AI. Pada Juli 2026, Zuckerberg bahkan mengakui bahwa perkembangan teknologi agen AI berjalan lebih lambat dibandingkan ekspektasi awal. Ia mengatakan manfaat AI yang lebih signifikan masih membutuhkan waktu untuk diwujudkan.
Meski demikian, Meta tidak menghentikan investasi di bidang AI. Perusahaan tetap mengembangkan berbagai model dan sistem AI, termasuk teknologi yang ditujukan untuk menjalankan tugas secara lebih mandiri. Meta juga masih berambisi menjadi salah satu pemain utama dalam persaingan AI global.
Kegagalan sebagian dari Project OT menunjukkan bahwa mengganti pekerjaan manusia dengan AI tidak sesederhana memasang teknologi baru. AI memang dapat membantu meningkatkan produktivitas, tetapi penerapannya tetap membutuhkan pengawasan, tenaga manusia, serta kesiapan sistem.
Bagi Meta, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa transformasi menuju perusahaan berbasis AI harus dilakukan secara bertahap. Sementara bagi perusahaan teknologi lainnya, kasus ini menunjukkan bahwa efisiensi yang dijanjikan AI belum tentu langsung tercapai ketika teknologi tersebut diterapkan dalam skala besar.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























