Jakarta – Kalau membayangkan suasana menonton film di bioskop, rasanya ada satu hal yang sulit dipisahkan dari pengalaman tersebut: popcorn. Camilan berbentuk kecil berwarna putih ini seolah sudah menjadi bagian dari ritual menonton film. Namun, siapa sangka popcorn ternyata pernah dianggap sebagai makanan yang tidak pantas dibawa masuk ke dalam bioskop.
Hubungan antara popcorn dan bioskop bermula di Amerika Serikat pada awal perkembangan industri film. Saat itu, bioskop berusaha membangun citra sebagai tempat hiburan yang berkelas. Interiornya dibuat mewah dengan karpet dan dekorasi elegan, menyerupai teater pertunjukan. Karena alasan kebersihan, suara berisik, serta potensi sampah yang ditinggalkan penonton, makanan seperti popcorn tidak diperbolehkan berada di dalam bioskop.
Padahal, popcorn sendiri sudah populer jauh sebelum bioskop berkembang. Pada abad ke-19, popcorn banyak dijual oleh pedagang kaki lima di berbagai acara, seperti pasar, pameran, pertandingan olahraga, hingga area sekitar tempat hiburan. Kehadiran mesin pembuat popcorn portabel pada akhir abad ke-19 juga membuat camilan tersebut semakin mudah diproduksi dan dijual kepada masyarakat.
Ketika bioskop mulai populer, pedagang popcorn justru memilih berjualan di sekitar pintu masuk. Penonton dapat membeli sebungkus popcorn sebelum masuk dan beberapa di antaranya bahkan mencoba menyelundupkannya ke dalam ruang pertunjukan.
Situasi tersebut perlahan berubah ketika industri bioskop menghadapi tekanan ekonomi pada era Great Depression atau Depresi Besar pada 1930-an. Harga tiket harus dibuat terjangkau agar masyarakat tetap mau datang menonton. Di sisi lain, pemilik bioskop membutuhkan sumber pendapatan tambahan.
Popcorn kemudian menjadi salah satu solusi yang menarik. Bahan bakunya murah, mudah dibuat, dapat dijual dengan harga lebih tinggi, dan masyarakat masih mampu membelinya meskipun kondisi ekonomi sedang sulit. Bioskop pun mulai memberikan ruang kepada pedagang popcorn untuk berjualan di area lobi atau di sekitar gedung.
Seiring waktu, pemilik bioskop menyadari bahwa keuntungan dari penjualan makanan dan minuman sangat menjanjikan. Mereka akhirnya tidak lagi hanya memberikan tempat kepada pedagang independen, tetapi mulai memasang mesin popcorn sendiri dan mengelola penjualan camilan tersebut.
Salah satu contoh menarik terjadi pada jaringan bioskop yang memasang mesin popcorn di puluhan lokasi. Bioskop yang menjual popcorn mengalami peningkatan keuntungan, sementara beberapa lokasi yang menolak menjualnya justru mengalami kerugian. Fenomena tersebut semakin memperkuat posisi popcorn sebagai bagian penting dari bisnis bioskop.
Perkembangan film bersuara sejak akhir 1920-an juga membantu mengubah persepsi terhadap kebisingan makanan di ruang bioskop. Suara dari film membuat bunyi penonton mengunyah camilan tidak lagi menjadi masalah sebesar ketika film masih bisu.
Popularitas popcorn semakin kuat selama Perang Dunia II. Saat itu, persediaan gula mengalami berbagai pembatasan sehingga beberapa camilan berbasis gula menjadi lebih sulit diperoleh. Popcorn tidak mengalami masalah yang sama sehingga posisinya sebagai camilan bioskop semakin kokoh. Pada pertengahan 1940-an, lebih dari separuh popcorn yang dikonsumsi di Amerika Serikat disebut dimakan di bioskop.
Dari makanan yang pernah dianggap mengotori karpet dan mengganggu suasana menonton, popcorn akhirnya berubah menjadi salah satu simbol paling kuat dari pengalaman pergi ke bioskop.
Kini, suara bungkus popcorn dibuka dan aroma mentega yang memenuhi lobi bahkan sudah menjadi bagian dari pengalaman sebelum film dimulai. Perjalanan popcorn menunjukkan bahwa sebuah camilan sederhana bisa berubah menjadi ikon budaya sekaligus sumber pendapatan penting bagi industri bioskop.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























