large-hutan-borneo-hutan-tertua-melebihi-hutan-hujan-amazon-yang-ada-di-indonesia-YVFhlnPLuA
Kekeringan Makin Panjang, Hutan Bisa Kehilangan Kemampuan untuk Pulih

Jakarta – Kekeringan yang berlangsung dalam waktu panjang menjadi ancaman serius bagi kelangsungan ekosistem hutan. Kondisi kekurangan air tidak hanya membuat pohon mengalami penurunan pertumbuhan, tetapi juga dapat mengganggu kemampuan mereka untuk bertahan dan pulih ketika kondisi lingkungan kembali membaik.

Kemampuan pohon menghadapi kekeringan selama ini sering dianggap sebagai bagian dari proses adaptasi alami. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan tersebut ternyata tidak seragam. Setiap spesies, bahkan individu dalam satu spesies yang sama, dapat memiliki tingkat ketahanan berbeda terhadap kondisi kering.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature pada Agustus 2026 menemukan adanya variasi yang cukup besar dalam kemampuan pohon tropis menghadapi kekeringan. Peneliti menganalisis 290 pohon dari 18 spesies di Puerto Rico yang hidup pada wilayah dengan tingkat curah hujan berbeda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar spesies memiliki karakter fisiologis yang lebih tahan terhadap kekeringan ketika tumbuh di kawasan yang lebih kering. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan kemampuan sistem pembuluh tanaman dalam menghadapi risiko embolisme, yakni kondisi ketika aliran air di dalam jaringan tanaman terganggu.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hutan memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih kompleks daripada sekadar membedakan pohon yang tahan dan tidak tahan kekeringan. Variasi karakter di dalam satu spesies ternyata ikut berperan dalam menentukan ketahanan hutan terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Meski demikian, tidak semua pohon memiliki kemampuan adaptasi yang sama. Spesies yang memiliki variasi karakter lebih terbatas berpotensi menjadi lebih rentan ketika kondisi iklim semakin kering.

Kekeringan berkepanjangan juga dapat memengaruhi pertumbuhan pohon. Ketika air di dalam tanah semakin sedikit, pohon harus mengurangi penggunaan air untuk mempertahankan fungsi vitalnya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan batang melambat dan aktivitas fisiologis tanaman menurun.

Penelitian terhadap tanaman Pinus radiata yang diterbitkan dalam jurnal Tree Physiology pada 2026 menunjukkan bahwa durasi kekeringan berpengaruh terhadap kecepatan pemulihan. Pohon yang mengalami periode kekeringan lebih panjang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan fungsi daun dan pertumbuhannya setelah mendapatkan kembali pasokan air.

Dampaknya menjadi semakin serius ketika kekeringan terjadi berulang kali. Hutan yang belum sepenuhnya pulih dari kekeringan sebelumnya dapat memasuki periode kekeringan berikutnya dalam kondisi yang sudah lebih rentan.

Penelitian global yang diterbitkan Nature Ecology & Evolution juga menemukan bahwa ketahanan lebih dari 70 persen kawasan hutan yang diteliti menurun setelah mengalami kekeringan ekstrem multi-tahun. Keanekaragaman spesies menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan kemampuan hutan mempertahankan ketahanannya.

Artinya, keberagaman hayati dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan alami bagi ekosistem hutan. Ketika satu jenis pohon lebih sensitif terhadap kekeringan, spesies lain yang lebih tahan dapat membantu menjaga sebagian fungsi ekosistem.

Namun, tekanan dari aktivitas manusia dapat memperburuk kondisi tersebut. Hutan yang mengalami gangguan akibat perubahan penggunaan lahan, eksploitasi, atau tekanan lingkungan lainnya berpotensi memiliki kemampuan pemulihan yang lebih rendah dibandingkan hutan yang relatif tidak terganggu.

Perubahan iklim membuat persoalan ini semakin penting. Kekeringan diproyeksikan menjadi lebih sering dan lebih ekstrem di berbagai wilayah, sementara suhu yang lebih tinggi juga meningkatkan kebutuhan air tanaman.

Karena itu, menjaga kesehatan hutan tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Upaya konservasi juga perlu mempertahankan keanekaragaman spesies dan kondisi ekosistem agar hutan memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi tekanan iklim.

Temuan-temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pohon memang memiliki kemampuan untuk beradaptasi, tetapi kemampuan tersebut memiliki batas. Semakin panjang dan ekstrem kekeringan yang terjadi, semakin besar pula tekanan terhadap sistem fisiologis pohon.

Jika kekeringan berlangsung terlalu lama atau terjadi berulang kali tanpa waktu pemulihan yang cukup, hutan dapat kehilangan sebagian kemampuan alaminya untuk kembali ke kondisi semula. Kondisi ini pada akhirnya dapat berdampak pada pertumbuhan pohon, penyerapan karbon, keanekaragaman hayati, hingga kestabilan ekosistem secara keseluruhan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/