JAKARTA – Kepunahan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu kemungkinan berlangsung jauh lebih mengerikan dari yang selama ini dibayangkan. Studi terbaru mengungkap bahwa asteroid yang menghantam wilayah Yucatan, Meksiko, tidak hanya menghasilkan ledakan dahsyat, tetapi juga menciptakan awan debu global yang menjebak panas di atmosfer.
Kondisi tersebut diduga membuat sebagian besar makhluk yang berada di permukaan Bumi mengalami paparan panas ekstrem hanya dalam waktu singkat. Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Purdue University menunjukkan bahwa debu hasil tumbukan asteroid dapat bertindak seperti selimut raksasa yang memerangkap radiasi panas dan mengarahkannya kembali ke permukaan Bumi.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Biogeosciences dengan judul Heat and wildfires during the K-Pg mass extinction enhanced by fine dust. Para peneliti berusaha menjelaskan bagaimana satu tumbukan asteroid dapat memicu kehancuran ekosistem dalam skala global.
Asteroid yang dikenal sebagai penyebab terbentuknya Kawah Chicxulub diperkirakan berukuran sekitar 10 kilometer. Ketika menghantam Bumi, tumbukan tersebut menguapkan lebih dari 1.000 kilometer kubik material berupa batuan dan tanah. Material itu kemudian terlontar tinggi ke atmosfer sebelum mendingin dan berubah menjadi partikel-partikel kecil.
Partikel tersebut kemudian menyebar membentuk lapisan debu yang menyelimuti atmosfer. Para peneliti menemukan bahwa lapisan ini memiliki kemampuan sangat besar dalam menahan radiasi panas. Alih-alih membiarkan panas keluar menuju angkasa, debu tersebut membuat energi panas tetap berada di sekitar permukaan Bumi.
Akibatnya, suhu di permukaan meningkat secara ekstrem. Radiasi termal yang diterima makhluk hidup diperkirakan mencapai tingkat yang jauh melebihi ambang mematikan bagi manusia. Kondisi ini juga dapat memicu kebakaran hutan secara luas, termasuk membakar rerumputan, lumut kerak, jarum pinus, dan material tumbuhan lainnya.
Brandon Johnson, ilmuwan planet dari Purdue University sekaligus penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa energi dari tumbukan asteroid pada akhirnya berubah menjadi panas. Debu yang berada di atmosfer kemudian berfungsi seperti penutup yang menghambat panas keluar dari sistem Bumi.
Peneliti menyebut efek pemanasan tersebut kemungkinan berlangsung sangat cepat. Bahkan, analisis mereka menunjukkan bahwa sebagian besar organisme yang tidak memiliki tempat berlindung mungkin menghadapi kondisi mematikan dalam waktu sekitar satu hingga dua jam setelah peristiwa tumbukan.
Makhluk hidup yang berada di dalam liang, bawah tanah, perairan dangkal, atau tempat terlindung lainnya memiliki peluang lebih besar untuk selamat dari gelombang panas awal. Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa sejumlah kelompok hewan berhasil bertahan melewati kepunahan massal tersebut.
Namun, panas ekstrem bukan satu-satunya ancaman. Setelah fase awal yang sangat panas, debu dan material lain yang berada di atmosfer juga memberikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Partikel yang menghalangi sinar Matahari dapat mengganggu proses fotosintesis dan mengacaukan rantai makanan.
Dengan berkurangnya tumbuhan, hewan herbivora akan kesulitan memperoleh makanan. Kondisi tersebut kemudian berdampak kepada predator yang bergantung pada herbivora. Karena itu, kepunahan dinosaurus dipandang sebagai rangkaian bencana yang dimulai dari tumbukan asteroid dan berlanjut dengan perubahan drastis pada atmosfer serta ekosistem.
Studi terbaru ini tidak berarti seluruh dinosaurus mati tepat dalam beberapa jam. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa dampak kepunahan berlangsung melalui beberapa mekanisme dan pada skala waktu berbeda. Sebagian organisme kemungkinan selamat dari fase panas awal, tetapi kemudian menghadapi kehancuran habitat, kebakaran, gangguan rantai makanan, dan perubahan iklim.
Temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai mengapa tumbukan Chicxulub mampu berubah dari sebuah bencana lokal menjadi peristiwa kepunahan global. Asteroid itu bukan hanya menghantam Bumi dengan energi luar biasa, tetapi juga menciptakan kondisi atmosfer yang memperkuat dampak panas di seluruh planet.
Dengan demikian, kematian dinosaurus kemungkinan bukan sekadar cerita tentang asteroid yang menghantam Bumi. Debu yang muncul setelah tumbukan justru menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian bencana yang membuat kehidupan di permukaan Bumi mengalami perubahan terbesar dalam sejarahnya.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/






















