JAKARTA – Grup maskapai AirAsia tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat kondisi keuangannya. Perusahaan berencana menghimpun dana hingga US$1 miliar atau sekitar Rp17,69 triliun melalui pasar utang internasional. Dana tersebut terutama akan digunakan untuk melakukan restrukturisasi dan refinancing utang yang dimiliki perusahaan.
Rencana penggalangan dana ini muncul ketika industri penerbangan masih menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kenaikan harga bahan bakar pesawat hingga dampak konflik geopolitik terhadap biaya operasional. AirAsia menegaskan bahwa aksi korporasi tersebut merupakan bagian dari strategi untuk mengoptimalkan struktur permodalan perusahaan.
Selain mencari pendanaan di pasar internasional, AirAsia juga tengah mengupayakan fasilitas kredit domestik senilai 700 juta ringgit Malaysia. Dengan kombinasi sumber pendanaan tersebut, perusahaan berharap dapat memiliki struktur pembiayaan yang lebih sehat dan fleksibel dalam menghadapi kebutuhan bisnis ke depan.
Deputy Group Chief Executive Officer AirAsia, Farouk Kamal, menjelaskan bahwa pendanaan baru tersebut sebagian besar diarahkan untuk menggantikan pembiayaan lama yang memiliki biaya lebih tinggi. Utang yang diperoleh pada masa pandemi menjadi salah satu beban yang ingin ditata kembali oleh perusahaan.
Melalui refinancing, AirAsia berharap dapat memperoleh pembiayaan dengan tenor yang lebih panjang serta persyaratan yang lebih menguntungkan. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan beban bunga sekaligus memberikan ruang finansial yang lebih besar bagi perusahaan untuk menjalankan strategi pertumbuhan.
Kondisi keuangan AirAsia memang masih menghadapi tekanan. Berdasarkan laporan terbaru, perusahaan mencatat kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit pada kuartal II 2026. Kinerja tersebut terdampak kenaikan harga bahan bakar jet serta kerugian valuta asing.
Pada akhir Juni 2026, total liabilitas AirAsia mencapai sekitar 18,4 miliar ringgit, sementara kas yang tersedia berada di kisaran 954 juta ringgit. Data tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan perusahaan untuk menjaga likuiditas sekaligus mengelola kewajiban finansialnya.
Meski demikian, manajemen AirAsia menyebut penggalangan dana tersebut bukan semata-mata karena perusahaan mengalami kekurangan modal kerja. Fokus utamanya adalah memperbaiki struktur utang dan memperkuat neraca perusahaan sehingga AirAsia memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menjalankan bisnis.
Sebelumnya, AirAsia juga telah menunjukkan kemampuan memperoleh pendanaan. Pada Maret 2026, perusahaan berhasil menghimpun sekitar US$300 juta. Pendanaan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperpanjang jatuh tempo kewajiban serta mengurangi beban pokok utang.
Di sisi operasional, AirAsia juga melakukan penyesuaian kapasitas penerbangan pada kuartal III 2026. Perusahaan menyebut pengurangan kapasitas sekitar 20–25 persen tersebut merupakan strategi yang disesuaikan dengan pola perjalanan musiman, bukan semata-mata akibat persoalan keuangan.
Dengan rencana pendanaan hingga US$1 miliar tersebut, AirAsia kini berupaya membangun kembali fondasi keuangannya. Jika proses refinancing berjalan sesuai rencana, perusahaan dapat mengurangi tekanan biaya bunga dan memperoleh ruang lebih besar untuk menghadapi tantangan industri penerbangan.
Langkah tersebut juga menjadi penting karena AirAsia tetap ingin mempertahankan pertumbuhan bisnisnya di tengah persaingan maskapai berbiaya rendah yang semakin ketat. Keberhasilan restrukturisasi utang akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan seberapa kuat perusahaan dapat melanjutkan ekspansi dan menjaga operasionalnya dalam beberapa tahun mendatang.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























