678632d07b59a
Gojek Ungkap Penyebab “Krisis Ojol” Saat Ramadan, Banyak Driver Pulang Kampung Jelang Lebaran

Jakarta – Fenomena sulitnya mendapatkan layanan ojek online (ojol) di sejumlah wilayah Jakarta dan kota besar lainnya belakangan menjadi perbincangan di media sosial. Banyak pengguna mengeluhkan lamanya waktu pencarian driver, terutama saat jam sibuk menjelang waktu berbuka puasa selama bulan Ramadan.

Menanggapi keluhan tersebut, pihak Gojek menjelaskan bahwa kondisi yang disebut sebagai “krisis ojol” dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya berkurangnya jumlah mitra pengemudi yang aktif beroperasi karena sebagian telah pulang kampung lebih awal untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga.

Head of Driver Operations Gojek, Bambang Adi Wirawan, mengatakan bahwa menjelang akhir Ramadan memang terjadi perubahan pola aktivitas para mitra driver. Sejumlah pengemudi yang biasanya bekerja di kota besar memilih untuk mudik lebih awal sehingga ketersediaan pengemudi di beberapa area menjadi berkurang.

Selain faktor mudik, perubahan pola permintaan layanan selama Ramadan juga memengaruhi ketersediaan layanan ojek online. Menurut Gojek, jam sibuk pemesanan kini terjadi lebih awal dibandingkan hari biasa, terutama di kawasan perkantoran dan pusat bisnis di Jakarta.

Lonjakan permintaan biasanya mulai terlihat sejak pukul 15.30 WIB dan mencapai puncaknya antara pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, bertepatan dengan waktu masyarakat memesan makanan untuk berbuka puasa atau memesan transportasi untuk pulang kerja. Kondisi ini membuat waktu tunggu pengguna menjadi lebih lama dibandingkan hari biasa.

Fenomena ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial setelah banyak pengguna mengeluhkan sulitnya mendapatkan driver ojol. Beberapa bahkan mengaku harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan pengemudi, baik untuk layanan transportasi maupun pesan antar makanan.

Kondisi tersebut membuat istilah “krisis ojol” menjadi viral di berbagai platform digital. Namun, perusahaan penyedia layanan transportasi online menegaskan bahwa kondisi tersebut bersifat sementara dan biasanya terjadi menjelang periode libur panjang seperti Ramadan dan Lebaran.

Selain lonjakan permintaan dan berkurangnya jumlah driver aktif, beberapa faktor lain juga disebut memengaruhi ketersediaan layanan ojol, seperti kondisi lalu lintas yang padat serta cuaca yang tidak menentu di sejumlah wilayah perkotaan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kecepatan pengemudi dalam menerima dan menyelesaikan pesanan.

Di sisi lain, ojek online masih menjadi salah satu moda transportasi dan layanan pengantaran yang sangat populer di Indonesia. Platform seperti Gojek menyediakan berbagai layanan, mulai dari transportasi roda dua, pengantaran makanan, hingga pengiriman barang yang memudahkan aktivitas masyarakat di perkotaan.

Pemerintah sendiri juga mengakui kontribusi besar para pengemudi ojol dalam mendukung mobilitas masyarakat dan ekonomi digital. Menjelang Lebaran 2026, sekitar 850 ribu mitra pengemudi diperkirakan menerima bantuan atau Bonus Hari Raya (BHR) dari perusahaan aplikasi dengan nilai total sekitar Rp220 miliar.

Pemberian BHR tersebut diharapkan dapat membantu para pengemudi memenuhi kebutuhan keluarga menjelang hari raya sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap kontribusi mereka dalam ekosistem transportasi digital.

Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama Ramadan dan menjelang Lebaran, perusahaan aplikasi juga terus memantau kondisi operasional di lapangan. Gojek menyatakan akan berupaya menjaga keseimbangan antara permintaan layanan dan ketersediaan mitra pengemudi agar layanan tetap berjalan optimal bagi pengguna.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/