1c5d00a2-1d5f-452c-b8c2-9543b6917bb3
Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Donald Trump Langsung Melontarkan Kritik Keras

Jakarta – Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru setelah Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei, ditunjuk sebagai Supreme Leader atau pemimpin tertinggi negara tersebut. Penunjukan ini dilakukan oleh Dewan Ahli Iran (Assembly of Experts) pada awal Maret 2026 di tengah meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei terjadi tidak lama setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan sejumlah tokoh penting Iran dan memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah.

Setelah kematian Ali Khamenei, Iran sempat mengalami masa transisi kepemimpinan. Sesuai konstitusi negara tersebut, sebuah dewan kepemimpinan sementara dibentuk untuk menjalankan fungsi pemerintahan hingga pemimpin baru dipilih secara resmi. Dewan Ahli kemudian melakukan pemungutan suara tertutup dan akhirnya menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran.

Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh yang cukup berpengaruh di lingkaran elite politik Iran, meskipun ia tidak pernah memegang jabatan pemerintahan secara resmi sebelumnya. Ia memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang merupakan salah satu kekuatan militer dan politik paling kuat di negara tersebut. Dukungan dari kelompok ini disebut menjadi faktor penting yang memperkuat posisinya dalam proses suksesi kepemimpinan Iran.

Namun, penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menuai reaksi keras dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan tersebut. Ia bahkan menyebut sosok Mojtaba tidak dapat diterima oleh Washington dan menilai kepemimpinannya tidak akan membawa stabilitas bagi kawasan.

Trump juga sempat menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya memiliki pengaruh dalam proses penentuan pemimpin baru Iran. Ia menegaskan bahwa Washington menginginkan sosok pemimpin yang dapat membawa perdamaian dan stabilitas bagi negara tersebut. Pernyataan itu memicu kontroversi di tingkat internasional, karena dianggap sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan internal Iran.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai bahwa penunjukan Mojtaba Khamenei justru menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan mengubah arah kebijakan politiknya dalam waktu dekat. Kepemimpinan Mojtaba diperkirakan akan melanjutkan garis keras yang sebelumnya dijalankan oleh ayahnya, terutama dalam menghadapi tekanan dari negara-negara Barat.

Pengangkatan Mojtaba juga dianggap sebagai langkah yang memperkuat dominasi kelompok konservatif dalam sistem politik Iran. Para pengamat menilai bahwa keputusan tersebut dapat memperkecil peluang dialog diplomatik dengan Amerika Serikat maupun sekutu Barat lainnya dalam waktu dekat.

Situasi ini terjadi di tengah konflik militer yang semakin memanas di Timur Tengah. Serangan balasan antara Iran dengan negara-negara sekutunya serta operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel membuat kawasan tersebut berada dalam kondisi sangat tegang. Kondisi ini juga berdampak pada pasar global, termasuk melonjaknya harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.

Dengan dilantiknya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran, perhatian dunia kini tertuju pada bagaimana arah kebijakan luar negeri Iran ke depan serta potensi eskalasi konflik dengan negara-negara Barat yang masih terus berlangsung.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/