Jakarta – Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur kembali menjadi sorotan. Lonjakan harga komoditas energi global dinilai berpotensi berdampak langsung pada industri penerbangan nasional. Sejumlah pakar memperkirakan harga tiket pesawat di Indonesia bisa meningkat hingga 35 persen apabila tren kenaikan avtur terus berlanjut dalam waktu dekat.
Avtur merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional maskapai penerbangan. Dalam struktur biaya maskapai, porsi bahan bakar bahkan bisa mencapai 30–40 persen dari total pengeluaran operasional. Ketika harga avtur melonjak, maskapai praktis harus menyesuaikan harga tiket agar tetap menjaga keberlanjutan bisnis.
Seorang pengamat penerbangan menjelaskan bahwa fluktuasi harga minyak dunia menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga avtur. Konflik geopolitik, gangguan rantai pasok energi, hingga meningkatnya permintaan perjalanan udara pascapandemi turut memperparah kondisi tersebut. Dampaknya, maskapai di berbagai negara, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan biaya yang signifikan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maskapai kemungkinan besar tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan tarif penerbangan. Kenaikan harga tiket diperkirakan dapat mencapai kisaran 20 hingga 35 persen, tergantung rute dan kebijakan masing-masing maskapai. Rute domestik jarak jauh dan rute internasional diprediksi menjadi yang paling terdampak karena konsumsi bahan bakarnya lebih tinggi.
Selain faktor avtur, kondisi armada pesawat juga ikut memengaruhi harga tiket. Jumlah pesawat yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi membuat kapasitas penerbangan masih terbatas. Ketika permintaan perjalanan meningkat sementara kapasitas belum kembali normal, harga tiket cenderung terdorong naik. Kombinasi antara mahalnya bahan bakar dan keterbatasan armada menjadi tantangan besar bagi industri penerbangan saat ini.
Pakar menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menekan dampak kenaikan harga avtur. Upaya tersebut dapat berupa kebijakan fiskal, insentif, maupun strategi penguatan pasokan energi domestik. Langkah tersebut penting agar harga tiket tetap terjangkau bagi masyarakat tanpa membebani maskapai secara berlebihan.
Bagi masyarakat, kenaikan harga tiket pesawat tentu menjadi kabar yang kurang menyenangkan, terutama menjelang musim liburan atau periode perjalanan tinggi. Biaya perjalanan yang meningkat dapat memengaruhi rencana wisata maupun perjalanan bisnis. Tidak menutup kemungkinan, sebagian penumpang akan beralih ke moda transportasi lain seperti kereta api atau bus untuk rute tertentu.
Namun di sisi lain, pelaku industri penerbangan berharap situasi ini bersifat sementara. Jika harga minyak global kembali stabil, maka harga avtur berpotensi turun dan tarif tiket bisa kembali menyesuaikan. Maskapai juga terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional, termasuk penggunaan pesawat yang lebih hemat bahan bakar dan optimalisasi rute penerbangan.
Dengan berbagai tantangan tersebut, industri penerbangan Indonesia kini berada pada fase krusial. Kolaborasi antara pemerintah, maskapai, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci agar sektor penerbangan tetap tumbuh sekaligus menjaga keterjangkauan layanan bagi masyarakat.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























