69565b8542b81
Viral ‘Minuman Rasa Susu’ di Menu MBG Diduga Impor China, BGN Tegaskan Larangan & Ancaman Sanksi

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah unggahan di media sosial menampilkan produk minuman berlabel “minuman rasa susu” yang diduga masuk sebagai bagian dari menu MBG di sekolah-sekolah. Foto kemasan produk tersebut memperlihatkan keterangan bahwa minuman diproduksi di Jinan City, Shandong, China, sehingga memicu perdebatan luas netizen dan masyarakat mengenai kualitas dan sumber bahan pangan yang diberikan kepada anak-anak.

Unggahan yang viral tersebut cepat menyebar melalui platform X (dulu Twitter) dan langsung menarik komentar warganet yang mempertanyakan apakah produk tersebut benar-benar memiliki nilai gizi yang sesuai dengan tujuan program MBG. “Sedih dok, susunya ini dari China pula,” tulis salah satu pengguna X dalam unggahannya.

Menanggapi kegaduhan itu, Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa larangan penggunaan bahan pangan impor dalam program MBG adalah aturan yang sangat tegas dan mutlak. Menurutnya, aturan tersebut tidak hanya berlaku sebagai kebijakan administratif semata, tetapi juga sebagai standar untuk memastikan kualitas serta sumber nutrisi yang layak bagi anak-anak yang menerima MBG.

Tidak boleh sedikitpun bahan pangan MBG berasal dari impor. BGN tidak pernah memberikan izin penggunaan susu atau produk impor apa pun,” tegas Nanik saat dikonfirmasi, Rabu (31/12/2025).

Lebih jauh, Nanik juga menyatakan bahwa jika terbukti ada satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang menggunakan produk impor untuk menu MBG, BGN akan mengambil sanksi tegas. Ancaman sanksi itu termasuk penghentian sementara (suspend) hingga tindakan administratif lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pernyataan BGN tersebut disambut beragam oleh masyarakat. Sebagian netizen mendukung sikap tegas BGN, sementara yang lain mengkritik lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan MBG di tingkat daerah. Ada pula yang menyoroti bahwa produk berlabel “rasa susu” belum tentu memiliki nilai gizi setara susu sapi segar atau minuman gizi yang ideal bagi anak-anak, karena kandungannya sering kali lebih banyak air dan gula daripada protein susu sejati.

Selain persoalan sumber impor, pakar gizi sebelumnya juga sempat memberikan peringatan terhadap penggunaan minuman berpemanis yang diklaim “rasa susu” karena kandungan gulanya yang relatif tinggi dan protein yang rendah dibanding susu asli. Hal ini membuat beberapa ahli gizi menilai produk semacam itu tidak layak dijadikan salah satu komponen utama menu gizi anak sekolah.

Sejumlah pihak juga menyerukan agar masyarakat aktif melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di daerah masing-masing. BGN bahkan membuka kesempatan bagi publik untuk melaporkan dugaan penggunaan bahan pangan impor melalui call centre resmi BGN.

Program MBG sendiri merupakan salah satu inisiatif pemerintah dalam meningkatkan kecukupan gizi anak sekolah di seluruh Indonesia. Dengan tujuan menyediakan menu yang seimbang dari segi nutrisi, MBG diharapkan dapat membantu tumbuh kembang siswa secara optimal. Namun, kejadian viral ini menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan dalam pengawasan pelaksanaan program, khususnya terkait ketentuan sumber bahan makanan yang digunakan.

Dengan sorotan publik yang semakin intens, BGN kini berada di bawah tekanan untuk memperketat mekanisme evaluasi dan audit menu MBG di berbagai daerah guna memastikan program ini tetap berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/