BEKASI – Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia terus melakukan terobosan nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan taraf hidup kelompok rentan. Keberhasilan program vokasi pertanian yang digagas pemerintah terbukti nyata saat momen panen melon di STPL Bekasi, Wamensos dorong sentra jadi pusat pemberdayaan lintas keahlian bagi para Penerima Manfaat (PM). Kunjungan kerja ini menegaskan komitmen kuat agar fasilitas sosial tidak sekadar menjadi tempat rehabilitasi pasif, melainkan bertransformasi menjadi inkubator kemandirian ekonomi.
Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) di Bekasi kini mulai menjelma menjadi lahan percontohan agrobisnis terpadu. Budidaya melon premium berjenis golden melon yang ditanam dan dirawat langsung oleh para penghuni sentra di dalam fasilitas greenhouse sukses membuahkan hasil yang manis dan bernilai ekonomis tinggi.
Mengubah Paradigma Rehabilitasi Menjadi Produksi
Program budidaya pertanian modern ini sengaja dirancang agar para Penerima Manfaat—yang terdiri dari kelompok marginal, penyandang disabilitas, hingga tunawisma—memiliki bekal keterampilan praktis ( hard skill) yang sangat dibutuhkan di dunia kerja atau dunia usaha.
“Transformasi fungsi panti rehabilitasi menjadi sentra produksi vokasional adalah langkah yang sangat progresif. Keberhasilan panen melon di STPL Bekasi, Wamensos dorong sentra jadi pusat pemberdayaan ini membuktikan bahwa dengan pendampingan agronomis dan manajemen bisnis yang tepat, kelompok rentan mampu menghasilkan komoditas bermutu tinggi yang kompetitif bersaing di pasar modern,” urai seorang pengamat ekonomi sosial dari universitas terkemuka merespons keberhasilan program tersebut.
Tiga Pilar Pemberdayaan Kemandirian di STPL Bekasi
Keberhasilan memanen komoditas buah premium ini didasari oleh tiga pilar utama pemberdayaan yang diterapkan secara holistik oleh STPL Bekasi:
-
Pelatihan Vokasi Modern: Membekali PM dengan ilmu pertanian berbasis teknologi mutakhir, seperti sistem irigasi tetes, hidroponik, pemeliharaan greenhouse, hingga manajemen panen bebas pestisida.
-
Pendampingan Kewirausahaan Terpadu: Tidak hanya dibimbing cara menanam, para PM juga diajarkan literasi keuangan, teknik pengemasan (packaging), dan negosiasi pemasaran produk untuk menembus jaringan supermarket lokal.
-
Pemulihan Psikososial Berbasis Karya: Proses bertani yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kedisiplinan dinilai menjadi terapi psikologis yang sangat efektif untuk memulihkan kepercayaan diri para PM sebelum mereka kembali terjun dan berbaur ke tengah masyarakat.
Menuju Sentra Vokasi Mandiri Skala Nasional
Ke depan, Wamensos menaruh harapan besar agar model greenhouse dan lahan pertanian terpadu di STPL Bekasi dapat direplikasi oleh sentra-sentra sosial Kemensos lainnya di seluruh Indonesia. Diketahui, omzet dari hasil penjualan panen melon ini nantinya akan diputar kembali dan disisihkan sebagai tabungan atau modal usaha mandiri bagi para PM saat mereka lulus dari program pembinaan. Keberhasilan ini sekaligus mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa keterbatasan sosial atau fisik bukanlah halangan untuk menjadi wirausahawan agrobisnis yang mandiri dan tangguh.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/





















