JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (26/6/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data perdagangan pagi, kurs rupiah berada di kisaran Rp17.987 per dolar AS, melemah sekitar 44 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Meski belum menembus angka Rp18.000, posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah sepanjang tahun 2026.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari dalam negeri. Penguatan dolar AS secara global menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan berbagai mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Data inflasi Amerika Serikat yang meningkat serta pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS kembali menguat. Kondisi tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset berbasis dolar AS.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan. Won Korea Selatan, baht Thailand, dolar Singapura, yuan China, hingga yen Jepang turut melemah terhadap dolar AS. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah merupakan bagian dari sentimen global, bukan hanya dipengaruhi kondisi domestik semata.
Analis pasar menilai level Rp18.000 per dolar AS menjadi batas psikologis yang sangat diperhatikan investor. Apabila rupiah mampu bertahan di bawah level tersebut, kepercayaan pasar berpotensi tetap terjaga. Sebaliknya, jika tekanan berlanjut hingga menembus angka tersebut secara konsisten, volatilitas di pasar keuangan diperkirakan meningkat.
Pelemahan rupiah berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi. Biaya impor bahan baku dan barang konsumsi dapat meningkat sehingga mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen. Perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang dolar AS juga akan menghadapi beban pembayaran yang lebih besar. Di sisi lain, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan karena nilai pendapatan dalam dolar menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.
Pengamat ekonomi menilai Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan menjaga likuiditas agar pergerakan rupiah tetap terkendali. Koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan juga dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pelaku pasar kini juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk indikator inflasi dan perkembangan kebijakan moneter Federal Reserve. Hasil data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS sekaligus memengaruhi nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Meski tekanan terhadap rupiah masih cukup besar, sejumlah analis memperkirakan pergerakan mata uang Indonesia masih berpotensi bergerak fluktuatif. Selama sentimen global belum mereda, volatilitas diperkirakan masih akan membayangi pasar keuangan Indonesia. Namun apabila tekanan eksternal mulai berkurang dan arus modal asing kembali masuk, peluang penguatan rupiah tetap terbuka pada paruh kedua tahun ini.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























