vikyec264a
Heboh! WNI Diduga Kelabui Grok AI dan Bawa Kabur Kripto Rp 3 Miliar

Jakarta – Dunia kripto global mendadak dihebohkan oleh dugaan aksi seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang berhasil memanfaatkan celah keamanan pada sistem kecerdasan buatan atau AI untuk memindahkan aset kripto senilai miliaran rupiah. Insiden ini melibatkan chatbot Grok AI yang terintegrasi dengan sistem transaksi aset digital melalui Bankrbot.

Kasus tersebut pertama kali ramai diperbincangkan setelah akun X bernama @Ilhamrfliansyh diduga berhasil membuat sistem AI mengirim sekitar 3 miliar token DebtReliefBot (DRB) ke dompet kripto miliknya. Nilai token tersebut diperkirakan mencapai US$175.000 atau sekitar Rp3 miliar.

Berbeda dengan aksi peretasan biasa yang umumnya menyerang sistem blockchain atau smart contract, metode yang digunakan dalam kasus ini justru memanfaatkan kelemahan cara kerja AI. Pelaku disebut menggunakan teknik “prompt injection”, yaitu menyisipkan instruksi tersembunyi agar AI menjalankan perintah tertentu tanpa menyadari bahwa instruksi tersebut berbahaya.

Dalam laporan yang beredar di komunitas kripto, pelaku diduga menyisipkan instruksi menggunakan kode Morse. Pesan tersebut kemudian diterjemahkan oleh Grok AI menjadi instruksi transfer seluruh token DRB menuju dompet tertentu. Karena sistem AI telah memiliki akses langsung ke dompet digital melalui Bankrbot, transaksi pun terjadi secara otomatis tanpa proses verifikasi tambahan.

Aksi ini langsung memicu perdebatan besar di dunia teknologi dan keamanan siber. Banyak pihak menilai insiden tersebut menjadi bukti bahwa integrasi AI dengan sistem keuangan digital masih memiliki risiko besar jika tidak disertai pengamanan berlapis.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut kasus ini sebagai bentuk ancaman baru di era AI. Menurutnya, memberikan otoritas penuh kepada AI untuk melakukan transaksi keuangan tanpa validasi ketat bisa menjadi celah serius bagi pelaku eksploitasi digital.

Sementara itu, Vice President Indodax Antony Kusuma menegaskan bahwa kasus tersebut bukanlah peretasan terhadap teknologi blockchain secara langsung. Ia menjelaskan bahwa blockchain tetap berjalan normal, namun kelemahan muncul pada sistem otomatisasi AI yang diberi akses terhadap aset digital.

Pihak Bankrbot sendiri mengungkapkan bahwa sebagian besar dana telah dikembalikan ke dompet asal beberapa jam setelah kejadian. Meski demikian, insiden ini tetap menjadi perhatian serius karena menunjukkan bagaimana AI bisa dimanipulasi hanya melalui instruksi teks tertentu.

Selain itu, akun X yang diduga digunakan pelaku kini sudah tidak lagi ditemukan. Komunitas kripto global pun ramai membahas kemungkinan adanya eksploitasi serupa di masa mendatang, terutama terhadap AI agent yang memiliki akses langsung ke transaksi aset digital.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa perkembangan AI memang membawa kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam keamanan digital. Banyak pengamat menilai perusahaan teknologi kini harus mulai memperkuat sistem validasi dan pengawasan sebelum memberikan akses penuh kepada AI untuk mengelola aset bernilai besar.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/