Jakarta – Kucing oren menjadi salah satu kucing yang paling populer di media sosial. Tingkahnya yang dianggap kocak, berani, dan terkadang sulit ditebak membuatnya sering dijuluki sebagai kucing paling unik. Namun, di balik warna bulunya yang mencolok, terdapat penjelasan ilmiah yang menarik, terutama mengenai genetika dan jenis kelaminnya.
Selama bertahun-tahun, para peneliti berusaha memahami mekanisme genetik yang membuat sebagian kucing memiliki bulu berwarna jingga atau kemerahan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 2025 akhirnya mengungkap perubahan DNA yang berkaitan erat dengan warna tersebut.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa sebagian besar kucing oren berjenis kelamin jantan, sedangkan kucing betina lebih sering menampilkan perpaduan warna jingga, hitam, dan putih seperti pada kucing calico.
Perubahan DNA di Balik Warna Bulu Oren
Penelitian yang dilakukan oleh dua tim ilmuwan secara independen menemukan bahwa warna oren pada kucing berkaitan dengan perubahan pada bagian DNA di sekitar gen bernama ARHGAP36.
Perubahan tersebut berupa penghapusan segmen DNA sepanjang sekitar 5.000 pasangan basa pada kromosom X. Bagian DNA yang hilang bukanlah bagian yang langsung menghasilkan protein, tetapi diduga berperan dalam mengatur aktivitas gen.
Akibat perubahan tersebut, gen ARHGAP36 menjadi lebih aktif pada sel pigmen kulit kucing oren. Aktivitas ini memengaruhi proses pembentukan pigmen yang menentukan warna rambut.
Pada umumnya, warna bulu kucing dipengaruhi oleh berbagai jenis pigmen. Eumelanin berperan menghasilkan warna gelap seperti hitam dan cokelat, sedangkan pheomelanin menghasilkan warna kemerahan hingga kekuningan.
Pada kucing oren, mekanisme genetik tersebut mengubah aktivitas jalur pembentukan pigmen sehingga warna bulunya tampak jingga atau kemerahan.
Penemuan ini menjadi penting karena mekanisme genetik yang mendasari warna oren pada kucing sebelumnya belum sepenuhnya dipahami.
Mengapa Kucing Oren Kebanyakan Jantan?
Salah satu fakta paling menarik adalah kaitan antara warna bulu oren dan kromosom X. Kucing jantan umumnya memiliki kromosom XY, sedangkan kucing betina memiliki kromosom XX.
Karena varian gen yang berkaitan dengan warna oren berada pada kromosom X, kucing jantan hanya membutuhkan satu kromosom X yang membawa varian tersebut untuk memiliki bulu oren.
Sebaliknya, kucing betina biasanya perlu mewarisi varian warna oren pada kedua kromosom X agar seluruh bulunya berwarna oren. Kondisi tersebut membuat kucing betina yang sepenuhnya berwarna jingga lebih jarang ditemukan.
Namun, bukan berarti kucing oren betina tidak ada. Kucing betina dapat memiliki warna oren jika mewarisi kombinasi genetik yang sesuai dari kedua induknya.
Perbedaan aktivitas kromosom X selama perkembangan juga menjelaskan munculnya pola warna belang pada kucing betina. Ketika salah satu kromosom X dinonaktifkan secara acak pada sel tertentu, kelompok sel yang berbeda dapat menghasilkan warna bulu yang berbeda pula.
Inilah salah satu mekanisme yang menghasilkan pola khas pada kucing calico dan tortoiseshell.
Benarkah Kucing Oren Lebih Nakal?
Di media sosial, kucing oren sering mendapat julukan sebagai kucing yang paling berisik, usil, rakus, atau bertingkah di luar dugaan. Berbagai video memperkuat anggapan tersebut hingga menjadi fenomena internet.
Meski demikian, warna bulu tidak dapat dijadikan bukti bahwa seekor kucing memiliki kepribadian tertentu. Penelitian mengenai genetika warna oren tersebut berfokus pada mekanisme pembentukan pigmen, bukan membuktikan bahwa kucing oren lebih nakal atau kurang cerdas dibandingkan kucing dengan warna lain.
Perilaku kucing dipengaruhi banyak faktor, termasuk pengalaman, lingkungan, interaksi dengan manusia, dan karakter masing-masing individu.
Karena itu, julukan kucing oren sebagai kucing yang selalu bertingkah aneh lebih tepat dipandang sebagai bagian dari budaya populer internet daripada kesimpulan ilmiah.
Warna Bulu Tidak Menentukan Kesehatan atau Kecerdasan
Penemuan mengenai gen ARHGAP36 juga tidak berarti bahwa semua kucing oren memiliki kondisi kesehatan atau tingkat kecerdasan yang sama.
Setiap kucing tetap membutuhkan makanan bergizi, air bersih, pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi sesuai rekomendasi dokter hewan, serta lingkungan yang aman.
Pemilik juga perlu memperhatikan perubahan perilaku, nafsu makan, dan kondisi fisik hewan peliharaan mereka tanpa menghubungkannya secara otomatis dengan warna bulu.
Penelitian genetika ini memberikan pemahaman baru tentang bagaimana perubahan kecil pada DNA dapat menghasilkan ciri fisik yang mudah dikenali. Di balik penampilan kucing oren yang menggemaskan, ternyata terdapat mekanisme biologis kompleks yang selama puluhan tahun menjadi teka-teki para ilmuwan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























