Jakarta – Mantan gelandang tim nasional Belgia, Radja Nainggolan, kembali mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah memilih memperkuat Timnas Indonesia. Pengalaman bermain di Tanah Air serta perjalanan karier internasional yang tidak berjalan sesuai harapan membuat pemain berdarah Indonesia tersebut kini memandang keputusannya di masa lalu dengan sudut pandang berbeda.
Nainggolan memiliki darah Indonesia dari sang ayah dan sempat merasakan atmosfer sepak bola Indonesia ketika memperkuat Bhayangkara FC pada akhir 2023 hingga 2024. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam, terutama terkait antusiasme suporter dan penghargaan yang diberikan masyarakat kepada para pemain sepak bola.
Karier Bersama Belgia Tak Berakhir Sesuai Harapan
Saat masih berada di puncak kariernya, Nainggolan memilih membela tim nasional Belgia. Ia pernah memperkuat sejumlah klub besar Eropa, termasuk AS Roma dan Inter Milan, serta dikenal sebagai gelandang yang memiliki karakter permainan agresif dan kemampuan bertarung di lini tengah.
Namun, perjalanan internasionalnya bersama Belgia tidak berlangsung sepanjang yang diharapkan. Nainggolan mencatatkan 30 penampilan bersama tim nasional tersebut sebelum kiprahnya berakhir pada 2018.
Salah satu momen yang paling mengecewakan baginya adalah ketika tidak masuk dalam skuad Belgia untuk Piala Dunia 2018 di Rusia. Keputusan pelatih Roberto Martinez saat itu membuat Nainggolan merasa kesempatan yang telah diperjuangkannya selama bertahun-tahun berakhir terlalu cepat.
Penyesalan tersebut kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap pilihan membela negara di tingkat internasional. Ia mengaku kini menyadari bahwa dirinya mungkin bisa memiliki perjalanan yang berbeda apabila sejak awal memilih Indonesia.
Membayangkan 15 Tahun Bersama Timnas Indonesia
Dalam wawancara yang dikutip sejumlah media, Nainggolan mengungkapkan bahwa dirinya baru benar-benar memikirkan kemungkinan membela Indonesia setelah melihat kembali perjalanan kariernya bersama Belgia.
Ia berandai-andai dapat menjalani karier internasional yang lebih panjang bersama skuad Garuda. Menurutnya, kesempatan membela Indonesia mungkin bisa memberinya pengalaman berbeda selama bertahun-tahun, terutama jika dibandingkan dengan perjalanan singkatnya bersama tim nasional Belgia.
Nainggolan juga menyoroti besarnya perhatian publik Indonesia terhadap sepak bola. Ia menyebut pertandingan Timnas Indonesia melawan negara seperti Vietnam atau Irak dapat menarik puluhan ribu penonton ke stadion.
Besarnya dukungan tersebut menjadi salah satu hal yang membuatnya terkesan. Bagi seorang pesepak bola, atmosfer stadion dan hubungan dengan suporter merupakan bagian penting yang dapat memberikan pengalaman berharga sepanjang karier.
Meski demikian, pernyataan Nainggolan merupakan refleksi atas keputusan masa lalu. Ia tidak pernah menjalani karier sebagai pemain tim nasional Indonesia, sehingga bayangan mengenai perjalanan selama 15 tahun bersama skuad Garuda tetap menjadi kemungkinan yang tidak pernah terwujud.
Soroti Apresiasi untuk Pemain Timnas Indonesia
Selain membahas dukungan suporter, Nainggolan juga menyinggung keuntungan yang menurutnya dapat diperoleh pemain ketika memperkuat Indonesia. Ia menyoroti popularitas, dukungan sponsor, serta nilai komersial yang bisa membantu pemain membangun masa depan setelah pensiun.
Dalam pernyataannya, Nainggolan menyebut sejumlah merek mewah, seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex, ketika membicarakan dukungan komersial terhadap pemain. Ia juga membandingkan situasi tersebut dengan sejumlah pemain yang berkarier di sepak bola Eropa.
Menurut pandangannya, membela tim nasional bukan hanya memberikan kesempatan bermain di level internasional, tetapi juga dapat meningkatkan popularitas dan membuka peluang di luar lapangan.
Nainggolan mengakui bahwa ketika masih muda, ia tidak terlalu mempertimbangkan aspek tersebut. Setelah memasuki usia 38 tahun, ia justru melihatnya sebagai salah satu hal yang mungkin bisa memberikan keuntungan dalam jangka panjang.
Pengalaman di Indonesia Mengubah Perspektif
Pengalaman bermain bersama Bhayangkara FC membuat Nainggolan lebih dekat dengan kehidupan sepak bola Indonesia. Ia tidak hanya merasakan kompetisi di lapangan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana masyarakat memberikan perhatian kepada pemain.
Antusiasme suporter dan keramahan masyarakat menjadi bagian dari pengalaman yang membekas baginya. Hal tersebut membuat Indonesia memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidup dan kariernya.
Meski keputusan untuk membela Belgia tidak dapat diubah, pengakuan Nainggolan menunjukkan bahwa pilihan dalam karier seorang atlet terkadang baru terasa dampaknya setelah waktu berlalu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pernyataan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana kekuatan Timnas Indonesia jika pada masa kejayaannya diperkuat pemain dengan pengalaman panjang di kompetisi elite Eropa.
Pada akhirnya, penyesalan Nainggolan menjadi cerita tentang kesempatan yang terlewat. Ia pernah memilih Belgia dan menjalani karier profesional di Eropa, tetapi pengalaman di Indonesia membuatnya menyadari bahwa membela skuad Garuda mungkin akan memberikan perjalanan internasional yang berbeda.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























