Jakarta – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan seorang marshal atau petugas Jogja Marathon menegur pria yang berada di lintasan lomba tanpa mengenakan nomor peserta (bib). Insiden tersebut kemudian menjadi perbincangan luas setelah pria yang ditegur diketahui merupakan ajudan Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono.
Video yang viral itu menunjukkan petugas lomba meminta pria tersebut keluar dari area lintasan karena tidak memiliki identitas peserta resmi. Dalam sejumlah unggahan media sosial, insiden tersebut memicu berbagai respons dari masyarakat, terutama terkait penerapan aturan yang berlaku bagi seluruh peserta dan pihak yang berada di area perlombaan.
Menanggapi polemik yang berkembang, TNI Angkatan Darat akhirnya memberikan penjelasan resmi. Pihak TNI AD menyatakan bahwa keberadaan ajudan tersebut merupakan bagian dari tugas pengamanan terhadap Danrem 072/Pamungkas yang menghadiri rangkaian kegiatan Mandiri Jogja Marathon 2026. Menurut penjelasan tersebut, ajudan menjalankan fungsi pengawalan dan tidak mengikuti lomba sebagai peserta.
TNI AD juga menegaskan bahwa tidak ada niat untuk melanggar aturan penyelenggaraan acara. Keberadaan ajudan di area sekitar lintasan disebut berkaitan dengan aspek keamanan pejabat yang hadir dalam kegiatan berskala internasional tersebut. Meski demikian, pihak TNI menghormati mekanisme dan prosedur yang diterapkan panitia selama penyelenggaraan event berlangsung.
Jogja Marathon 2026 sendiri merupakan salah satu ajang lari terbesar di Indonesia yang diikuti sekitar 10.200 peserta dari 17 negara. Kegiatan yang berlangsung di kawasan Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu menghadirkan berbagai kategori lomba mulai dari 5K, 10K, Half Marathon hingga Marathon penuh. Event ini juga dihadiri sejumlah pejabat daerah dan tokoh nasional, termasuk Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono sebagai Danrem 072/Pamungkas.
Di sisi lain, banyak warganet memberikan apresiasi kepada petugas dan marshal yang tetap menjalankan tugas sesuai prosedur. Mereka menilai sikap tegas panitia menunjukkan profesionalisme dalam menjaga aturan perlombaan tanpa memandang status seseorang. Unggahan yang menampilkan petugas meminta pria tanpa bib keluar dari lintasan bahkan mendapat banyak dukungan di media sosial.
Perdebatan kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya standar keamanan dalam event olahraga serta batasan akses bagi pihak non-peserta. Dalam perlombaan lari berskala besar, keberadaan orang yang tidak terdaftar di lintasan memang sering menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keselamatan peserta maupun kelancaran lomba.
Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono sendiri diketahui cukup aktif menghadiri berbagai kegiatan olahraga masyarakat di wilayah Yogyakarta. Beberapa waktu sebelum Jogja Marathon, ia juga tercatat mengikuti dan mendukung sejumlah kegiatan lari massal sebagai bagian dari kampanye gaya hidup sehat dan pembinaan hubungan antara TNI dengan masyarakat.
Meski sempat memicu polemik, insiden tersebut akhirnya tidak mengganggu jalannya Jogja Marathon 2026. Perlombaan tetap berlangsung lancar hingga selesai dan sukses menarik perhatian ribuan pelari dari dalam maupun luar negeri. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa koordinasi antara panitia, aparat keamanan, dan pihak pendukung acara sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman di lapangan.
Dengan adanya klarifikasi dari TNI AD, publik kini memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai konteks keberadaan ajudan Danrem di area lintasan. Meskipun demikian, perdebatan mengenai penerapan aturan yang setara bagi seluruh pihak kemungkinan masih akan terus menjadi bahan diskusi di kalangan masyarakat dan komunitas olahraga.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























