raja-charles-iii-cabut-gelar-pangeran-andrew-07112025-152217
Siaran Radio Inggris Heboh Usai Salah Umumkan Raja Charles III Meninggal Dunia

Jakarta – Sebuah stasiun radio di Inggris menjadi sorotan publik internasional setelah secara tidak sengaja menyiarkan kabar palsu mengenai wafatnya Raja Charles III. Insiden tersebut memicu kepanikan dan kebingungan di kalangan pendengar sebelum akhirnya pihak radio memberikan klarifikasi serta permintaan maaf resmi.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 19 Mei 2026, ketika Radio Caroline yang berbasis di Essex, Inggris, tiba-tiba menghentikan siaran reguler dan mengumumkan bahwa Raja Charles III telah meninggal dunia. Pengumuman tersebut bahkan diikuti dengan pemutaran lagu penghormatan dan penghentian sementara program radio sebagaimana prosedur resmi ketika seorang raja wafat.

Dalam siaran tersebut, penyiar radio menyampaikan bahwa program reguler dihentikan sebagai bentuk penghormatan atas “wafatnya Yang Mulia Raja Charles III.” Kabar tersebut langsung menyebar cepat di media sosial dan membuat banyak pendengar terkejut karena tidak ada pengumuman resmi dari Istana Buckingham.

Tak lama setelah siaran berlangsung, pihak Radio Caroline menyadari adanya kesalahan fatal dalam sistem mereka. Manajer stasiun radio, Peter Moore, menjelaskan bahwa insiden tersebut dipicu oleh kesalahan komputer yang secara tidak sengaja mengaktifkan protokol “Death of a Monarch” atau prosedur kematian raja yang memang telah disiapkan oleh hampir seluruh media penyiaran di Inggris.

“Karena kesalahan komputer di studio utama kami, prosedur kematian raja secara tidak sengaja aktif dan menyiarkan pengumuman yang keliru,” kata Moore dalam pernyataan resminya.

Radio Caroline kemudian segera memulihkan siaran normal dan meminta maaf kepada Raja Charles III serta para pendengarnya atas kekeliruan tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa informasi mengenai wafatnya Raja Charles sama sekali tidak benar.

Insiden ini semakin menarik perhatian publik karena terjadi di tengah kunjungan resmi Raja Charles III dan Ratu Camilla ke Irlandia Utara. Saat kabar palsu itu beredar, Raja Charles diketahui sedang menghadiri sejumlah agenda publik, termasuk menghadiri pertunjukan musik rakyat dan mengunjungi kawasan Titanic Quarter di Belfast.

Kondisi kesehatan Raja Charles III sendiri memang sempat menjadi perhatian dunia sejak pihak kerajaan mengumumkan bahwa sang raja menjalani perawatan kanker pada awal 2024. Meski demikian, Istana Buckingham beberapa kali memastikan bahwa Raja Charles masih aktif menjalankan tugas kenegaraan dan kegiatan resmi kerajaan.

Di Inggris, media penyiaran memang memiliki prosedur khusus apabila seorang anggota kerajaan wafat, terutama raja yang sedang berkuasa. Protokol tersebut mencakup pengumuman resmi, perubahan program siaran, hingga pemutaran lagu penghormatan nasional. Karena itulah, kesalahan aktivasi protokol ini langsung menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat.

Banyak pengguna media sosial mengaku sempat percaya dengan pengumuman tersebut. Beberapa bahkan langsung mencari konfirmasi dari media nasional dan situs resmi kerajaan Inggris sebelum akhirnya mengetahui bahwa kabar itu hanyalah kesalahan teknis.

Insiden ini juga memunculkan perdebatan mengenai pentingnya sistem verifikasi dalam dunia penyiaran modern. Kesalahan informasi terkait tokoh penting dunia dinilai bisa berdampak besar terhadap stabilitas informasi publik dan memicu kepanikan massal apabila tidak segera diklarifikasi.

Meski telah meminta maaf, Radio Caroline tetap menjadi sorotan karena dianggap lalai dalam mengelola sistem siaran sensitif. Banyak pihak berharap insiden serupa tidak kembali terjadi, terutama terkait informasi penting yang menyangkut kepala negara dan institusi kerajaan.

Sementara itu, Raja Charles III dipastikan tetap dalam kondisi baik dan melanjutkan seluruh agenda kenegaraan sesuai jadwal yang telah ditentukan pihak kerajaan Inggris.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/