Jakarta – Populasi burung macaw yang selama ini menjadi simbol kota Caracas kini menghadapi ancaman serius. Kebijakan pemerintah kota untuk menebang pohon palem tua di sejumlah ruang publik dikhawatirkan menghilangkan habitat penting bagi burung berwarna cerah tersebut.
Selama dua dekade terakhir, macaw biru-kuning berkembang pesat di ibu kota Venezuela dan menjadi pemandangan khas yang menghiasi langit kota setiap pagi dan sore. Banyak warga setempat bahkan menganggap burung ini sebagai bagian dari identitas kota karena sering terlihat bertengger di balkon, antena, hingga pepohonan di kawasan permukiman.
Namun kini, keberadaan mereka berada di ujung tanduk. Para ilmuwan menyebut kebijakan penebangan pohon palem—khususnya jenis royal palm atau chaguaramo—mengancam proses reproduksi macaw. Burung ini diketahui hanya membuat sarang di batang pohon palem tua yang sudah berlubang akibat pembusukan alami dan serangan serangga.
Ahli biologi dari Universitas Simon Bolivar, Maria Lourdes Gonzalez, memperingatkan bahwa tanpa tempat berkembang biak, populasi macaw bisa menurun drastis dalam beberapa tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa burung macaw tidak membangun sarang dari ranting seperti burung lain, melainkan bergantung pada lubang alami di batang pohon tua. Jika pohon tersebut ditebang, generasi baru macaw berpotensi tidak akan lahir.
Pemerintah kota sebenarnya memiliki alasan tersendiri dalam kebijakan penebangan. Pohon palem tua dinilai berisiko roboh dan membahayakan warga, sehingga program penataan kota dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dan estetika ruang publik. Meski begitu, kebijakan tersebut memicu kekhawatiran para peneliti dan pecinta lingkungan karena dampaknya terhadap kelangsungan hidup satwa urban.
Fenomena macaw di Caracas sendiri memiliki sejarah unik. Burung ini bukan spesies asli kota tersebut. Diperkirakan, macaw mulai muncul sejak 1970-an ketika banyak warga memeliharanya sebagai hewan peliharaan. Seiring waktu, sebagian burung dilepas atau kabur, lalu berkembang biak secara alami di lingkungan kota yang memiliki iklim hangat dan sumber makanan melimpah.
Ketiadaan predator alami serta banyaknya pepohonan buah membuat populasi macaw berkembang pesat hingga mencapai ratusan ekor. Bahkan, sejumlah warga rutin memberi makan burung ini di balkon rumah mereka, menciptakan hubungan unik antara manusia dan satwa liar di tengah kota metropolitan.
Bagi sebagian warga, macaw bukan sekadar burung liar. Fotografer lokal Mabel Cornago mengaku telah mengambil puluhan ribu foto macaw selama lebih dari satu dekade. Foto-foto tersebut dijual sebagai suvenir bagi diaspora Venezuela di luar negeri yang merindukan kampung halaman. Ia menyebut macaw sebagai “malaikat kota” yang membawa harapan di tengah situasi sulit negara tersebut.
Para peneliti kini berencana melakukan sensus baru untuk menghitung populasi macaw setelah penebangan pohon berlangsung. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan konservasi yang lebih seimbang antara keselamatan warga dan perlindungan satwa urban.
Jika tidak ada solusi jangka panjang, Caracas berisiko kehilangan salah satu ikon visual paling berwarna di langitnya. Burung macaw yang selama ini memberi warna pada kota bisa perlahan menghilang, meninggalkan kekhawatiran akan hilangnya simbol kebanggaan warga setempat.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























