Jakarta — Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah yang melibatkan beberapa negara besar tidak hanya berdampak pada geopolitik global, tetapi juga mengguncang sektor perjalanan ibadah, terutama umrah. Sejumlah penerbangan umrah dari Indonesia terpaksa dibatalkan atau ditunda akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut, memaksa jemaah dan biro perjalanan untuk menyesuaikan rencana keberangkatan mereka.
Menurut Asosiasi Perjalanan Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Jawa Timur, beberapa jadwal keberangkatan jemaah umrah, khususnya yang mengudara dari Provinsi Jawa Timur menuju Arab Saudi, telah dibatalkan dalam beberapa hari terakhir. Pembatalan ini terjadi imbas penutupan atau pembatasan lalu lintas udara di wilayah Timur Tengah akibat meningkatnya risiko keamanan di rute penerbangan tersebut.
Situasi ini juga sejalan dengan data yang dirilis oleh berbagai otoritas bandara dan agen perjalanan. Beberapa maskapai internasional dan bandara di Indonesia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, melaporkan penjadwalan ulang dan pembatalan puluhan penerbangan menuju rute Timur Tengah sejak konflik meningkat pada akhir Februari 2026.
Pihak Amphuri menekankan bahwa keamanan jemaah menjadi prioritas utama, dan hingga kini jemaah yang sudah berada di Arab Saudi atau transit masih dipastikan dalam kondisi aman. Namun, untuk mereka yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat, ancaman keamanan dari konflik yang belum mereda membuat banyak penerbangan dibatalkan oleh maskapai maupun otoritas bandara setempat.
Selain pembatalan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah juga telah mengeluarkan imbauan kepada calon jemaah umrah untuk menunda keberangkatan sementara. Hal ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menghindari risiko perjalanan atau gangguan di tengah kondisi yang belum stabil di sebagian rute udara Timur Tengah.
Deputi Menteri Haji dan Umrah menyatakan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk otoritas Saudi Arabia, maskapai penerbangan, serta penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), untuk meminimalkan dampak pembatalan dan menyediakan solusi bagi jemaah yang terdampak.
Sementara itu, pihak bandara juga memantau perkembangan penerbangan secara ketat. Menurut data terbaru, setidaknya ada puluhan penerbangan internasional yang dibatalkan sejak kondisi di Timur Tengah memburuk, termasuk rute menuju Riyadh, Jeddah, Doha, Dubai, dan beberapa kota lainnya yang biasa menjadi jalur transit atau tujuan langsung jemaah umrah.
Dampak dari pembatalan ini tidak hanya dirasakan oleh jemaah, tetapi juga biro perjalanan umrah yang harus menanggung penjadwalan ulang tiket, penginapan, dan logistik lainnya. Beberapa biro bahkan mengaku kesulitan mendapatkan kepastian rute alternatif karena banyak maskapai menutup atau membatasi operasi di area konflik.
Meski demikian, pemerintah tetap menegaskan bahwa proses kepulangan bagi jemaah yang sudah berada di Arab Saudi tetap berjalan secara bertahap dan terkoordinasi, dengan prioritas keselamatan dan kenyamanan jamaah. Hingga kini, puluhan ribu jemaah telah berhasil kembali ke Indonesia secara tertib.
Situasi global yang bergejolak memaksa banyak pihak untuk bekerja ekstra guna menavigasi risiko serta memastikan agar ibadah umrah tetap dapat dilakukan dengan aman ketika kondisi memungkinkan. Dalam jangka pendek, opsi penundaan dan pengaturan ulang jadwal tetap menjadi pilihan utama bagi banyak jemaah dan penyelenggara.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























