TANGERANG – Visi besar menuju swasembada pangan nasional kini merambah ke balik jeruji besi. Menteri Agus (Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan) melakukan kunjungan kerja strategis ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Ciangir, Tangerang. Dalam kunjungan tersebut, ia memberikan instruksi tegas untuk memaksimalkan seluruh potensi lahan yang ada di kawasan tersebut sebagai pusat ketahanan pangan terpadu.
Lapas Ciangir, yang dikenal memiliki lahan terbuka yang cukup luas, diproyeksikan tidak hanya menjadi tempat pembinaan narapidana, tetapi juga menjadi “pabrik” pangan yang produktif. Menteri Agus menekankan bahwa pemberdayaan warga binaan dalam sektor pertanian dan peternakan adalah kunci ganda: menciptakan kemandirian pangan sekaligus membekali narapidana dengan keahlian praktis yang bernilai ekonomi tinggi.
Dalam arahannya, Menteri Agus menyoroti pentingnya mengubah lahan-lahan tidur di sekitar area Lapas menjadi lahan pertanian produktif. Fokus utama pengembangan di Lapas Ciangir mencakup sektor hortikultura, perkebunan, hingga peternakan skala menengah.
“Kita punya lahan yang luas dan sumber daya manusia yang bisa dilatih. Lapas Ciangir harus menjadi percontohan nasional bagaimana institusi pemasyarakatan berkontribusi langsung pada program ketahanan pangan Presiden,” ujar Menteri Agus di hadapan jajaran pimpinan wilayah.
Menurutnya, optimalisasi ini akan dilakukan melalui sinergi antar-lembaga, termasuk menggandeng Kementerian Pertanian untuk penyediaan bibit unggul, pupuk, serta pendampingan teknis bagi para warga binaan yang bertugas sebagai tenaga tani.
Program ini juga mengusung konsep Open Camp, di mana warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif dan substantif dilibatkan langsung dalam proses produksi dari hulu ke hilir. Menteri Agus berharap hasil panen dari Lapas Ciangir nantinya tidak hanya memenuhi kebutuhan internal dapur Lapas di wilayah Banten, tetapi juga mampu masuk ke pasar luar untuk membantu menstabilkan harga pangan di masyarakat.
“Warga binaan adalah aset bangsa yang sedang ditempa. Dengan bekerja di lahan ketahanan pangan, mereka belajar disiplin, tanggung jawab, dan memiliki keahlian yang bisa mereka gunakan untuk mencari nafkah halal setelah bebas nanti,” tambahnya.
Selain optimalisasi lahan, pemerintah juga berencana memperkuat infrastruktur pendukung di Ciangir, mulai dari sistem irigasi yang lebih modern hingga penyediaan alat mesin pertanian (alsintan). Penggunaan teknologi pertanian diharapkan dapat meningkatkan efisiensi hasil panen sehingga target swasembada pangan dapat tercapai lebih cepat.
Langkah berani ini dipandang sebagai solusi inovatif dalam menjawab tantangan ketersediaan pangan nasional. Jika proyek di Lapas Ciangir ini sukses, skema serupa akan direplikasi di berbagai Lapas dengan lahan luas di seluruh penjuru Indonesia.
Dengan semangat kolaborasi, Lapas Ciangir kini bersiap bertransformasi dari sekadar institusi pemasyarakatan menjadi pusat agrowisata dan lumbung pangan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/





















