BEKASI — Dampak psikologis dari tindakan perundungan (bullying) tidak bisa dipandang sebelah mata. Di Kabupaten Bekasi, masa depan seorang siswa kini terancam suram setelah ia menolak keras untuk kembali bersekolah.
Keputusan memilukan sang anak untuk berhenti menuntut ilmu ini bukan karena malas, melainkan akibat trauma mendalam yang dideritanya pasca-menjadi korban perundungan oleh teman-temannya di lingkungan sekolah.
Ketakutan Tiap Kali Lihat Seragam
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi psikologis korban saat ini sangat terguncang. Sang siswa dikabarkan seringkali mengalami kecemasan berlebih, menangis histeris, hingga menutup diri di dalam kamar.
Pihak keluarga menuturkan bahwa korban menunjukkan penolakan ekstrem setiap kali diajak bicara mengenai sekolah. Bahkan, melihat seragam sekolahnya saja sudah cukup untuk memicu ketakutan (anxiety) pada diri korban.
“Anak saya sudah tidak mau sekolah lagi. Dia takut. Katanya kalau ke sekolah nanti diapain lagi sama teman-temannya,” ungkap orang tua korban dengan nada pilu.

Kronologi: Ejekan yang Berujung Trauma
Dugaan perundungan yang dialami korban disinyalir telah berlangsung cukup lama. Tindakan tersebut bermula dari ejekan verbal (verbal bullying) yang dilakukan secara berkelompok, hingga dugaan tindakan fisik atau intimidasi yang membuat korban merasa tidak aman dan terisolasi di lingkungan kelasnya.
Akumulasi dari perlakuan tidak menyenangkan inilah yang akhirnya meruntuhkan mental korban hingga mencapai titik nadir, di mana ia merasa sekolah bukan lagi tempat yang aman untuk belajar, melainkan “neraka” yang menakutkan.
Keluarga Tuntut Keadilan dan Evaluasi Sekolah
Tak terima buah hatinya menderita trauma berkepanjangan, pihak keluarga kini menuntut pertanggungjawaban. Mereka mendesak pihak sekolah untuk tidak menutup mata dan segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku.
Keluarga juga meminta adanya pendampingan psikologis untuk memulihkan mental korban agar bisa kembali percaya diri dan mau melanjutkan pendidikannya, meskipun mungkin harus pindah ke sekolah lain.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Bekasi. Dinas Pendidikan dan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) diharapkan segera turun tangan untuk memediasi kasus ini dan memastikan tidak ada lagi siswa yang harus putus sekolah hanya karena menjadi korban kekejaman teman sebayanya.
Baca juga berita bekasi di: Kabar Baghasasi – Kabar Baghasasi
Baca juga berita lainnya disini: Suara Kabar Media – Suara Kabar Media
























