istockphoto-1190960707-612x612
Tragedi Festival Jepang, Wakil Wali Kota Saijo Tewas Tertimpa Tandu Seberat 3 Ton

JEPANG – Perayaan festival tradisional di Jepang berujung tragedi setelah Wakil Wali Kota Saijo, Akihiro Nabae, meninggal dunia akibat tertimpa tandu raksasa saat mengikuti festival di Prefektur Ehime. Insiden tersebut terjadi pada Sabtu (17/10/2026) ketika Nabae ikut mengangkat tandu bersama peserta lainnya.

Nabae yang berusia 62 tahun dilaporkan terjebak di bawah tandu festival yang dikenal dengan nama taikodai. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal sekitar satu jam setelah kejadian.

Menurut laporan The Japan Times dan AFP, kecelakaan terjadi sekitar pukul 17.45 waktu setempat di kawasan bantaran sungai dekat Kuil Iizumi, Kota Saijo. Saat itu, para peserta sedang mengikuti salah satu rangkaian utama festival yang mempertemukan sejumlah tandu berukuran besar.

Tandu Raksasa Berbobot Hingga 3 Ton

Tandu taikodai yang digunakan dalam festival tersebut memiliki tinggi sekitar 5,3 meter dengan berat diperkirakan mencapai 2–3 ton. Ukurannya yang besar membuat pengangkatan dan pengendalian tandu membutuhkan koordinasi serta kekuatan fisik dari banyak peserta.

Saat kecelakaan terjadi, terdapat 11 tandu yang berjajar berdampingan dalam kegiatan tradisional bernama kakikurabe. Dalam kegiatan ini, kelompok peserta menunjukkan kemampuan mereka mengangkat dan mengendalikan tandu sebagai bagian dari rangkaian perayaan.

Nabae diketahui ikut berpartisipasi sebagai salah satu pengangkat tandu. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan tersebut masih diselidiki oleh kepolisian setempat.

Polisi belum memastikan apakah tandu terjatuh sehingga menimpa korban atau Nabae kehilangan keseimbangan ketika mengikuti kegiatan. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui secara pasti bagaimana insiden fatal itu bisa terjadi.

Wali Kota Saijo Sampaikan Belasungkawa

Kabar meninggalnya Nabae mengejutkan pemerintah Kota Saijo. Ia diketahui baru menjabat sebagai wakil wali kota pada Juli 2026, beberapa bulan sebelum kecelakaan tersebut terjadi.

Wali Kota Saijo, Mitsuyoshi Ochi, menyampaikan kesedihan mendalam atas kepergian rekannya tersebut. Ia mengaku masih sulit mempercayai kejadian itu dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

Kepergian Nabae menjadi kehilangan bagi pemerintahan setempat, terlebih karena ia baru memulai tugasnya dalam jajaran kepemimpinan kota.

Festival Tradisional Jepang Kembali Diwarnai Kecelakaan

Festival Saijo merupakan perayaan tahunan yang telah berlangsung sejak zaman Edo, periode sejarah Jepang yang berlangsung pada 1603–1868. Acara ini diselenggarakan oleh sejumlah kuil setempat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Festival tersebut menampilkan tandu-tandu besar dengan dekorasi yang menggambarkan berbagai unsur, seperti bunga, burung, dan tokoh pejuang. Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Namun, kematian Nabae kembali menyoroti risiko keselamatan dalam festival yang melibatkan benda berukuran besar dan aktivitas fisik intensif.

Insiden ini terjadi sekitar sepekan setelah dua orang dilaporkan meninggal dalam kecelakaan terpisah pada festival danjiri di Prefektur Osaka. Dalam kedua kejadian tersebut, tandu atau kereta festival dilaporkan terbalik ketika peserta melakukan manuver berkecepatan tinggi.

Rangkaian kecelakaan tersebut mendorong perhatian terhadap pentingnya pengawasan dan prosedur keselamatan dalam penyelenggaraan festival tradisional. Meski memiliki nilai budaya yang kuat, kegiatan semacam ini tetap memerlukan langkah pencegahan untuk melindungi peserta maupun masyarakat yang hadir.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/