CHIANG MAI — Sebuah tragedi mengejutkan terjadi di dua taman wisata satwa besar di Chiang Mai, Thailand, setelah sebanyak 72 harimau ditemukan mati dalam waktu kurang dari dua minggu pada bulan Februari 2026. Namun, pihak berwenang setempat menegaskan bahwa kematian masal itu bukan disebabkan oleh flu burung (avian influenza), melainkan akibat wabah virus lain yang dikenal sebagai canine distemper virus (CDV).
Kejadian ini berlangsung antara 8 hingga 18 Februari 2026 di dua fasilitas Tiger Kingdom yang berlokasi di distrik Mae Rim dan Mae Taeng. Total 72 harimau terinfeksi dan meninggal dunia selama periode ini, dengan 51 ekor di Mae Taeng dan 21 ekor di Mae Rim, menurut laporan otoritas Provinsi Chiang Mai.
Awalnya, muncul kekhawatiran bahwa wabah ini mungkin merupakan flu burung, penyakit yang beberapa kali menewaskan hewan besar di Asia Tenggara termasuk harimau di masa lalu. Di tahun 2004, ratusan harimau di kebun binatang lain di Thailand tewas akibat virus flu burung A/H5N1, yang sumbernya diduga dari pakan ayam mentah yang terkontaminasi. Namun hasil uji laboratorium terbaru menunjukkan tidak ada jejak virus influenza tipe A (penyebab flu burung) dalam sampel yang diperiksa.
Pakar kesehatan hewan Thailand menyatakan bahwa kenyataannya adalah infeksi canine distemper virus — virus yang sangat menular pada anjing dan kucing besar — bersama dengan beberapa bakteri seperti Mycoplasma serta kemungkinan feline parvovirus, merupakan penyebab utama kematian. CDV bisa menyebar melalui cairan tubuh dan udara, dan dalam kondisi hewan liar yang terkurung, stres serta faktor genetik juga memperburuk penyebaran penyakit ini.
Pemerintah Thailand menyatakan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus penularan virus ini ke manusia, sehingga masyarakat tidak perlu panik. Namun, pihak berwenang tetap melakukan pemantauan terhadap ratusan pekerja yang sempat kontak langsung dengan harimau di kedua fasilitas tersebut—sekitar 108 orang dipantau selama 21 hari untuk melihat adanya gejala penyakit.
Proses investigasi terus berjalan. Meskipun CDV dideteksi, sumber awal wabah ini masih belum dipastikan. Seorang dokter hewan yang terlibat dalam otopsi menyatakan bahwa kemungkinan pakan atau pasokan makanan umum antar kedua taman — yang berjarak sekitar 30 kilometer satu sama lain — bisa menjadi faktor penyebaran. Namun, hal ini masih membutuhkan bukti lanjutan.
Sebagai langkah penanggulangan, kedua taman wisata besar tersebut ditutup sementara untuk memungkinkan pembersihan dan desinfeksi menyeluruh, serta pemindahan dan karantina harimau sehat yang tersisa. Prosedur penguburan atau kremasi juga dilakukan untuk semua bangkai hewan yang mati, untuk mencegah risiko infeksi lebih jauh.
Kasus ini memicu kritik dari kelompok konservasi satwa liar yang meminta evaluasi lebih ketat terhadap fasilitas wisata yang memelihara hewan eksotis untuk interaksi langsung dengan pengunjung. Mereka menyoroti bagaimana kondisi stress, padatnya hewan, dan faktor manajemen pakan berpotensi mempercepat penyebaran penyakit.
Sejumlah pakar konservasi juga menyerukan regulasi yang lebih kuat dan program vaksinasi yang wajib bagi setiap satwa yang dipelihara di fasilitas publik untuk mencegah tragedi serupa di masa depan. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kesejahteraan hewan dalam industri pariwisata satwa dan perlunya protokol medis yang lebih ketat untuk melindungi baik hewan maupun manusia.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























