Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali merilis data terbaru terkait bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Per Selasa (27/1/2026), jumlah korban meninggal terus bertambah drastis, dengan lebih dari 1.200 jiwa dilaporkan tewas, sementara ratusan ribu warga masih berada di lokasi pengungsian akibat dampak bencana yang luas ini.
Menurut data resmi, bencana yang dipicu oleh curah hujan ekstrem beberapa bulan terakhir itu telah merusak ribuan rumah, fasilitas umum, serta infrastruktur penting. Hingga kini tercatat 113.672 orang masih mengungsi di berbagai titik pengungsian di tiga provinsi terdampak. Selain itu, puluhan korban masih dinyatakan hilang dan pencarian terus dilakukan oleh tim SAR gabungan.
Wilayah Terparah dan Dampak Korban
Provinsi Aceh Utara menjadi salah satu wilayah dengan angka korban jiwa terbanyak, dengan ratusan warga dilaporkan meninggal dunia. Di sana pula konsentrasi pengungsi terbesar terdata, mencapai puluhan ribu jiwa. Kondisi di sejumlah kabupaten lain seperti Tapanuli dan Sibolga di Sumatera Utara serta sejumlah daerah di Sumatera Barat juga menunjukkan kerusakan parah pada rumah penduduk, jembatan, fasilitas pendidikan, dan fasilitas kesehatan.
Kerusakan infrastruktur yang signifikan membuat akses ke beberapa titik sulit dijangkau, memperlambat upaya evakuasi dan distribusi bantuan. Rumah sakit, klinik, dan puskesmas di daerah bencana juga mengalami kerusakan berat atau lumpuh total, memaksa pemerintah provinsi dan pusat bekerja keras untuk memulihkan layanan kesehatan di tengah krisis.
Upaya Penanganan dan Bantuan
Pemerintah melalui BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan berbagai organisasi kemanusiaan masih giat melakukan operasi pencarian, evakuasi, dan distribusi bantuan. Logistik berupa makanan, obat-obatan, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya terus dikirim ke pos-pos pengungsian. Pemerintah pusat bahkan telah membuka saluran bantuan internasional dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan fasilitas vital.
Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah pemulihan fasilitas kesehatan yang rusak serta penyediaan layanan medis darurat yang memadai. Targetnya adalah agar seluruh rumah sakit dan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak beroperasi penuh paling lambat Maret 2026.
Trauma dan Pemulihan Jangka Panjang
Tak hanya fisik, dampak bencana ini juga meninggalkan luka psikologis mendalam bagi para korban yang kehilangan keluarga, rumah, dan mata pencaharian. Pemerintah daerah bersama lembaga kesehatan mental kini mulai menyediakan layanan dukungan psikososial untuk membantu warga pemulihan trauma. Para ahli menilai proses ini akan berlangsung dalam jangka panjang, mengingat skala kerugian yang sangat besar.
Catatan Akhir
Hingga berita ini ditulis, bencana di Sumatera masih dalam fase darurat. Jumlah korban dan data kerusakan diprediksi akan terus diperbarui seiring dengan perkembangan pencarian dan penanganan di lapangan. Pemerintah serta masyarakat luas dihimbau untuk terus bersatu membantu saudara-saudara mereka yang terdampak, baik secara langsung di lokasi maupun melalui gerakan bantuan kemanusiaan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























