Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kelapa sawit bukan sekadar komoditas ekspor: menurutnya, sawit adalah “harta karun” nasional yang bisa membawa Indonesia menuju swasembada energi. Pernyataan ini disampaikan dalam acara halal bihalal bersama Purnawirawan TNI-Polri di Balai Kartini, Jakarta, awal Mei 2025.
Sawit: Komoditas Strategis dan Didambakan Dunia
Prabowo mengungkap bahwa banyak negara kini memohon pasokan sawit dari Indonesia. “Setiap saya ke mana-mana, ada yang bilang ‘Yang Mulia, tolong sawit Indonesia kita prioritas ke kami.’” Ia menyebut sejumlah negara seperti Mesir, Pakistan, India, bahkan negara-negara di Eropa sebagai contoh yang memerlukan pasokan sawit dari Indonesia.
Menurutnya, kelapa sawit Indonesia — sebagai bagian dari kekayaan alam bangsa — jangan diremehkan. Sawit telah menjadi komoditas kritis dan strategis di panggung global.
Tak hanya untuk ekspor, Prabowo menunjukkan bahwa kelapa sawit memiliki potensi jauh lebih luas: dari sawit, Indonesia bisa menghasilkan 65 — bahkan hingga 67 — produk turunan, termasuk bahan bakar seperti biodiesel.
Swasembada BBM: Sasaran 5 Tahun ke Depan
Salah satu elemen paling menonjol dari pernyataan Presiden adalah keyakinannya bahwa Indonesia sesungguhnya bisa mandiri energi. “Negara kita sesungguhnya tidak perlu impor BBM sama sekali,” tegasnya. Dia menekankan bahwa saat ini Indonesia mengeluarkan konsumsi impor BBM sampai hampir US$ 40 miliar per tahun.
Dengan memaksimalkan pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar alternatif, Prabowo menargetkan swasembada BBM dan energi dalam kurun lima tahun mendatang di masa pemerintahannya.
Menurutnya, kemandirian energi bukan sekadar soal ekonomi — tetapi juga bagian dari strategi pertahanan nasional. Dengan energi sendiri, Indonesia bisa lebih mandiri dan tidak mudah tergantung pada negara lain.
Tantangan Harga dan Hilirisasi: Tak Semudah Janji
Namun, meskipun posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia menjadi kekuatan, tantangan tidak serta-merta hilang. Produksi besar belum tentu menjamin kontrol harga di pasar internasional. Beberapa analis menyebut bahwa meskipun Indonesia menguasai produksi sawit dunia, justru pasar dan harga global sering dikuasai pelaku luar negeri atau pusat perdagangan di luar negeri.
Artinya, agar janji swasembada energi bisa terealisasi, dibutuhkan strategi hilirisasi, penguatan industri dalam negeri, serta kebijakan untuk memastikan harga dan suplai bahan baku tetap terkendali — bukan sekadar mengandalkan volume produksi.
Sawit sebagai Simbol Kedaulatan dan Kemandirian Nasional
Pernyataan Presiden menggambarkan bahwa sawit bukan sekadar tanaman industri, melainkan simbol kedaulatan nasional. Dalam pandangan Prabowo, Indonesia harus mampu “berdiri di atas kaki sendiri,” tak tergantung pada impor energi, dan memanfaatkan kekayaan alam secara optimal.
Upaya menuju swasembada energi lewat sawit pun menjadi bagian dari visi besar: menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai eksportir komoditas, tapi juga pemain besar dalam rantai nilai energi — hingga ke bahan bakar lokal dan independensi energi nasional.
Implikasi
-
Jika strategi ini berjalan, Indonesia bisa menekan beban impor BBM secara signifikan, dan memperkuat stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.
-
Namun, peralihan dari sawit sebagai komoditas ekspor ke sumber energi domestik perlu dilakukan dengan kesiapan — baik teknis, regulasi, maupun investasi industri hilir.
-
Isu lingkungan dan keberlanjutan juga tidak bisa diabaikan, mengingat perluasan sawit sering dikaitkan dengan deforestasi dan dampak ekologis — aspek yang harus dikelola dengan bijak.
-
Akhirnya, kelapa sawit bisa menjadi “harta karun” jika dikelola dengan strategi nasional yang matang: hilirisasi, regulasi adil, dan kedaulatan energi yang berkelanjutan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
















