Jakarta – Otoritas Israel dilaporkan melarang umat Muslim melaksanakan Salat Idul Fitri di kompleks Masjid Al Aqsa, Yerusalem Timur, pada perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Keputusan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk negara-negara Muslim dan organisasi internasional.
Larangan tersebut diberlakukan dengan alasan keamanan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Israel menyebut situasi konflik yang sedang berlangsung membuat pembatasan akses ke area Al Aqsa menjadi langkah yang dianggap perlu untuk mencegah potensi eskalasi.
Akibat kebijakan ini, ribuan warga Muslim Palestina tidak dapat memasuki kompleks masjid yang merupakan salah satu situs suci terpenting dalam Islam. Banyak di antara mereka terpaksa melaksanakan Salat Id di luar area masjid, termasuk di jalanan sekitar Kota Tua Yerusalem.
Penutupan Masjid Al Aqsa saat momen Idul Fitri ini menjadi sorotan global karena dinilai sebagai tindakan yang belum pernah terjadi dalam skala sebesar ini dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, laporan internasional menyebutkan bahwa ini merupakan salah satu momen paling menyedihkan bagi umat Muslim di Yerusalem, karena tidak dapat beribadah di tempat suci mereka pada hari raya.
Selain pelarangan akses, aparat keamanan Israel juga dilaporkan memperketat penjagaan di berbagai pintu masuk menuju kompleks Al Aqsa. Barikade dan pemeriksaan ketat dilakukan untuk membatasi pergerakan warga Palestina menuju lokasi ibadah.
Situasi ini semakin memperkeruh hubungan antara Israel dan Palestina yang telah lama tegang. Sebelumnya, pembatasan terhadap umat Muslim di Al Aqsa juga telah terjadi selama bulan Ramadan, termasuk penangkapan sejumlah tokoh agama dan pembatasan jumlah jemaah.
Berbagai organisasi internasional seperti Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengecam keras langkah Israel tersebut. Mereka menilai larangan ini sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beragama serta status quo tempat-tempat suci di Yerusalem.
Di sisi lain, warga Palestina menyatakan kekecewaan mendalam atas kebijakan tersebut. Bagi mereka, Al Aqsa bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol identitas dan perjuangan. Larangan Salat Id dianggap sebagai bentuk pembatasan hak fundamental yang seharusnya dijamin oleh hukum internasional.
Ketegangan di sekitar Al Aqsa juga dikhawatirkan dapat memicu bentrokan antara warga dan aparat keamanan. Sejumlah laporan menyebutkan adanya peningkatan penangkapan dan pengawasan ketat di wilayah Kota Tua menjelang Idul Fitri.
Di tengah situasi tersebut, banyak umat Muslim tetap berusaha merayakan Idul Fitri dengan penuh kesederhanaan. Mereka menggelar Salat Id di berbagai titik terdekat dengan Masjid Al Aqsa, sebagai bentuk simbolis mempertahankan hak beribadah di tanah suci tersebut.
Peristiwa ini kembali menyoroti kompleksitas konflik di Yerusalem yang melibatkan aspek politik, keamanan, dan keagamaan. Hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa pembatasan akan segera dicabut, sementara tekanan internasional terhadap Israel terus meningkat.
Dengan larangan ini, perayaan Idul Fitri tahun 2026 menjadi salah satu yang paling penuh tantangan bagi umat Muslim di Palestina. Dunia pun menyoroti bagaimana kebebasan beragama diuji di tengah konflik yang belum menemukan titik damai.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























