Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa pagi perdagangan pasar spot, bergerak menuju level Rp16.790 per dolar AS dari posisi perdagangan sebelumnya. Penguatan ini menunjukkan respons positif pelaku pasar terhadap sentimen global yang sedikit mereda dan optimisme terhadap stabilitas ekonomi dalam jangka pendek.
Pergerakan Rupiah di Pasar Spot
Pada pembukaan perdagangan mata uang pada Selasa (10/2/2026), kurs rupiah tercatat menguat sekitar 0,09 persen atau naik dari posisi sebelumnya di posisi yang lebih lemah. Penguatan tipis ini menjadi lanjutan dari tren fluktuatif yang terlihat pada beberapa hari terakhir, di mana rupiah bergerak bervariasi mengikuti dinamika pasar global dan domestik belakangan ini.
Sentimen pasar secara umum dipengaruhi oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter global, kondisi ekonomi di Amerika Serikat, serta perkembangan data ekonomi domestik. Situasi ini membuat arus modal asing dan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar AS terus menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Sentimen Global dan Faktor Pendukung
Selain itu, optimisme pelaku pasar muncul karena indeks dolar AS sempat mengalami tekanan ringan akibat turunnya permintaan terhadap aset safe haven tersebut, memberi ruang bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah untuk bergerak lebih kuat. Pergerakan ini juga dipicu oleh data ekonomi global yang relatif stabil dan tidak ada lonjakan risiko geopolitik besar yang baru.
Analis pasar uang menyatakan bahwa sentimen global yang “lebih kondusif” saat ini menjadi katalis positif bagi rupiah, meskipun penguatan masih bersifat terbatas. Pasar juga tengah menunggu kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia (BI) serta arah kebijakan moneter The Federal Reserve AS dalam beberapa pekan mendatang yang dapat mempengaruhi korelasi rupiah–dolar AS.
Pergerakan Rupiah Sebelumnya
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah sempat bergerak dalam kisaran yang lebih sempit dengan kecenderungan penguatan sejak akhir pekan lalu setelah tekanan jual pada dolar global sedikit mereda. Pada Senin (9/2), rupiah tercatat menguat menjadi sekitar Rp16.872 per dolar AS sebelum kemudian kembali memperkuat ke posisi saat ini.
Secara historis, nilai tukar rupiah telah menunjukkan rentang tren yang cukup fluktuatif sejak awal tahun, dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal seperti dinamika suku bunga AS, aliran modal, dan ekspektasi inflasi global, serta faktor domestik seperti surplus neraca perdagangan dan data ekonomi Indonesia yang relatif stabil.
Tantangan dan Prospek Ke Depan
Namun, para analis tetap menyoroti ketidakpastian pasar ke depan. Dolar AS masih dipandang kuat oleh sebagian pelaku pasar, terutama karena peranannya sebagai mata uang safe haven ketika terjadi ketidakpastian global. Hal tersebut dapat mempersempit ruang bagi rupiah untuk menguat secara signifikan dalam waktu dekat.
Selain itu, pergerakan suku bunga acuan dari Bank Indonesia juga menjadi faktor penting yang akan diawasi oleh investor global dan domestik. Jika BI menunjukkan sinyal untuk menyesuaikan suku bunga demi stabilitas nilai tukar, hal itu bisa mendukung pergerakan rupiah lebih lanjut di masa depan.
Para pelaku pasar valuta asing diperkirakan akan terus memperhatikan data ekonomi AS dan keputusan kebijakan The Fed dalam beberapa pekan mendatang karena faktor ini memegang peranan signifikan dalam menentukan alur langkah rupiah terhadap dolar AS ke depan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























