Jakarta — Nama Roby Tremonti kian ramai diperbincangkan publik setelah dirilisnya memoir baru milik artis Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth yang mengisahkan pengalaman pahitnya sebagai korban kekerasan dan manipulasi saat masih remaja. Dengan viralnya buku tersebut, sejumlah warganet mengaitkan pengalaman “Bobby” yang diceritakan Aurelie dengan sosok Roby Tremonti. Namun sang aktor kini buka suara untuk memberikan tanggapan tegas atas berbagai tudingan dan hujatan yang muncul.
Memoar Broken Strings yang dirilis awal Januari 2026 ini mengangkat perjalanan hidup Aurelie saat ia menjadi korban child grooming dan hubungan manipulatif pada usia belia, tanpa secara eksplisit menyebut nama asli pelakunya. Cerita itu menjadi viral setelah potongan memoar itu beredar luas di media sosial, yang kemudian memicu spekulasi warganet mengenai sosok yang disebut sebagai “Bobby” dalam buku tersebut.
Reaksi Roby Tremonti
Roby Tremonti, yang masa lalu pernah menjalin hubungan personal dengan Aurelie Moeremans, akhirnya mengeluarkan pernyataan menyikapi viralnya isu ini. Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya dan pernyataan lain, Roby menegaskan bahwa ia merasa kredibilitasnya dicederai oleh anggapan publik yang mengaitkannya dengan isi memoar tersebut tanpa bukti kuat. Ia menyebutkan bahwa selama “16 tahun” ia memilih tetap diam meskipun namanya sering disebut dalam konteks negatif.
Dalam klarifikasinya, Roby menyentil bahwa serangan opini publik dan hujatan yang diarahkan padanya tanpa dasar hukum membuat reputasinya terganggu, meski ia tidak berniat mendiskreditkan karya atau pengalaman Aurelie. Ia juga sempat menyindir komentar warganet yang menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Saya selama ini diam, tapi ketika kredibilitas saya terus diinjak dan dihina tanpa bukti yang jelas, tentu saya perlu buka suara,” ungkap Roby dalam salah satu live Instagram yang diunggahnya, sekaligus menyerukan kepada publik untuk berhati-hati dalam menyebarkan asumsi yang belum terbukti.
Hujatan yang Menghantam Sosoknya
Pasca viralnya buku Broken Strings, akun media sosial Roby Tremonti dibanjiri komentar negatif dari netizen yang mengaitkan dirinya dengan buku tersebut. Banyak netizen yang menilai bahwa kisah “Bobby” dalam memoir itu merujuk pada masa lalu hubungan Roby dan Aurelie — hubungan yang sempat jadi sorotan publik termasuk isu rumah tangga dan rumor tentang pernikahan yang pernah diklaim terjadi.
Namun demikian, menurut dokumen Status Liber yang dibagikan Aurelie Moeremans, pernikahan yang sempat beredar di masa lalu itu diklarifikasi tidak sah, dan bukti menikah secara hukum memang tidak pernah tercatat, sehingga sebagian besar klaim rumit tersebut kini dipandang sebagai isu publik yang beredar luas tanpa dasar hukum yang kuat.
Roby: Fokus pada Reputasi & Karya
Ketika memberikan klarifikasi, Roby juga menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah mempertahankan reputasi pribadinya di tengah gelombang opini publik yang berkembang. Dia mengimbau netizen dan pihak media untuk tidak langsung menyimpulkan keterkaitan antara dirinya dengan cerita dalam buku hanya karena kemiripan pengalaman masa lalu, mengingat memoir itu menggunakan nama samaran dan tidak menyebutkan identitas sebenarnya.
Roby juga menyampaikan bahwa ia ingin fokus pada karya dan kehidupan profesionalnya, tanpa harus terus diterpa isu-isu yang dinilai merugikan, terutama yang bersifat pribadi dan belum teruji secara hukum. Pernyataan ini dimaksudkan sebagai upaya meredam spekulasi lebih lanjut serta memberi ruang bagi publik untuk memahami kasus ini secara lebih luas dan sensitif.
Dinamika Publik & Pelajaran Besar
Kisah yang diangkat oleh Aurelie melalui buku Broken Strings telah memicu diskusi luas mengenai isu manipulasi emosional, hubungan tidak sehat, dan dampak trauma masa lalu. Sementara itu, respons Roby Tremonti memperlihatkan bagaimana isu pribadi yang dilihat publik dapat memicu kontroversi, terutama di era media sosial.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa saat suatu karya seni atau memoir viral, sensitivitas publik terhadap isu seputar trauma dan perlakuan manipulatif harus diposisikan secara hati-hati, menghindari asumsi yang bisa menyebabkan fitnah atau penghakiman tanpa proses klarifikasi terlebih dahulu.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
















