Bekasi — Perayaan Cap Go Meh 2026 di Kota Bekasi berlangsung meriah pada Selasa (3/3/2026) sore ketika ribuan warga memadati jalan utama untuk menyaksikan kirab budaya yang digelar bersamaan dengan bulan suci Ramadan. Momen unik ini justru menjadi ajang ngabuburit sekaligus simbol keterbukaan sosial dan toleransi antarumat beragama di kota heterogen ini.
Rangkaian kegiatan Cap Go Meh digelar oleh Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong di pusat kota Bekasi, dan dimulai lebih awal pada sore hari untuk menyesuaikan dengan waktu ibadah puasa. Pawai budaya yang menampilkan atraksi barongsai, liong, dan tatung serta parade kostum tradisional Tionghoa itu menarik antusiasme tinggi dari warga, baik masyarakat Tionghoa, umat Islam, maupun kelompok budaya lain.
Pantauan media menunjukkan ribuan warga dari berbagai latar belakang memenuhi sepanjang Jalan Ir. H. Juanda, menyaksikan arak-arakan sambil menunggu waktu berbuka puasa. Banyak peserta dan penonton memanfaatkan momentum ini sebagai ajang berkumpul keluarga, berburu kuliner khas dan takjil, serta menikmati ragam pertunjukan budaya yang tertata rapi oleh panitia.
Ketua Yayasan Pancaran Tridharma, Ronny Hermawan, yang menjadi tuan rumah acara, menjelaskan bahwa Cap Go Meh merupakan perayaan yang lebih dari sekadar tradisi Imlek penutup, tetapi juga merupakan ajang penting untuk memperkuat persaudaraan antarwarga. Ronny mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan di bulan Ramadan adalah bentuk nyata dari semangat kebersamaan dan toleransi antaragama di Bekasi.
“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi tontonan semata, tetapi juga ruang silaturahmi antarberagam komunitas di Bekasi,” ujar Ronny saat memberikan sambutan di salah satu titik pawai.
Kemeriahan Cap Go Meh kali ini juga berdampak positif terhadap roda perekonomian lokal. Deretan pedagang makanan, aksesori budaya, lampion, hingga takjil berbuka terlihat berjejer di sepanjang rute pawai, menawarkan produk kearifan lokal kepada para pengunjung yang memadati jalan. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat mendapatkan peluang besar dalam momen ini, karena lonjakan pengunjung berdampak pada transaksi perdagangan sepanjang sore hingga malam hari.
Pawai Cap Go Meh juga menjadi bagian dari karnaval budaya multikultural, di mana setiap kelompok seni tampil harmonis tanpa menyinggung kekhusyukan Ramadan. Penyesuaian waktu dan rute acara yang matang membuat kegiatan ini berlangsung tertib, sekaligus menghormati umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
Warga yang ditemui di lokasi menyatakan kebanggaannya atas cara penyelenggaraan festival yang menggabungkan tradisi budaya Tionghoa dengan nilai–nilai kebhinekaan. “Ini momen langka dan indah. Hari ini kami bisa merasakan kebudayaan yang berbeda sambil tetap menghormati mereka yang berpuasa,” kata seorang pengunjung yang datang bersama keluarga.
Tidak hanya menjadi ajang hiburan, pawai Cap Go Meh di Bekasi tahun ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya dan agama dapat hidup berdampingan dalam harmoni. Bahkan kegiatan tersebut justru semakin mempererat hubungan sosial antarwarga dari berbagai latar yang berbeda.
Dengan dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan partisipasi aktif masyarakat, Cap Go Meh Bekasi 2026 diharapkan akan menjadi contoh perayaan budaya yang tak sekadar spektakuler, tetapi juga inklusif dan bermakna dalam memperkuat kehidupan sosial masyarakat luas.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























