Jakarta – Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Jakarta menuai perhatian serius dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia menegaskan insiden yang berdampak hingga operasional transportasi publik seperti MRT dan LRT tersebut tidak boleh terulang kembali karena energi menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat ibu kota.
Pramono menyampaikan hal tersebut saat meninjau pengerukan Kali Banjir Barat di kawasan Kebon Melati, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). Ia menyoroti dampak luas dari gangguan listrik yang terjadi sehari sebelumnya, termasuk terganggunya layanan transportasi modern yang menjadi andalan mobilitas warga.
Menurutnya, pemadaman listrik memberikan dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Selain mengganggu transportasi massal, kejadian tersebut juga memicu insiden warga terjebak di lift stasiun akibat gangguan listrik. Beberapa orang sempat terjebak di lift di Stasiun MRT Lebak Bulus sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh petugas pemadam kebakaran.
Pramono menekankan bahwa ketersediaan energi saat ini menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi kota metropolitan seperti Jakarta. Ia mengingatkan bahwa efisiensi energi harus menjadi perhatian bersama, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penghematan energi nasional.
Sebagai bagian dari upaya efisiensi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) sebesar 25–50 persen sejak 1 April 2026. Kebijakan ini bertujuan mengurangi konsumsi energi sekaligus menekan beban mobilitas di ibu kota.
Meski demikian, Pramono menegaskan bahwa kebijakan WFH tidak berlaku bagi sektor pelayanan publik. Pegawai yang bertugas memberikan layanan langsung kepada masyarakat tetap diwajibkan bekerja secara normal agar pelayanan tetap berjalan optimal.
Pemadaman listrik di Jakarta sendiri diketahui terjadi pada Kamis (9/4) akibat gangguan suplai dari gardu induk. Gangguan tersebut berdampak pada sejumlah kawasan di ibu kota dan memengaruhi berbagai aktivitas warga.
Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keandalan infrastruktur energi di Jakarta, terutama mengingat ketergantungan masyarakat pada layanan transportasi publik berbasis listrik seperti MRT dan LRT. Transportasi massal tersebut kini menjadi tulang punggung mobilitas harian warga Jakarta, sehingga gangguan listrik sekecil apa pun dapat berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi dan sosial.
Pramono berharap koordinasi antara pemerintah daerah dan penyedia listrik dapat diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menegaskan pentingnya sistem kelistrikan yang andal untuk mendukung aktivitas kota yang berjalan hampir tanpa henti.
Selain itu, kejadian ini menjadi pengingat bahwa Jakarta membutuhkan sistem energi yang semakin tangguh di tengah pertumbuhan kota dan peningkatan kebutuhan listrik. Modernisasi transportasi dan digitalisasi layanan publik menuntut pasokan listrik yang stabil, aman, dan berkelanjutan.
Dengan meningkatnya ketergantungan pada teknologi, gangguan listrik tidak lagi sekadar masalah teknis, tetapi juga berdampak pada keselamatan, kenyamanan, serta produktivitas masyarakat. Pemerintah pun diharapkan terus memperkuat infrastruktur energi agar Jakarta mampu menghadapi tantangan urbanisasi di masa depan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























