presiden-prabowo-subianto-menghadiri-pengukuhan-dan-taaruf-pengurus-majelis-ulama-indonesia-mui-periode-2025-2030-dan-rangkaia-1770445302638_169
Prabowo Tegas Serang MSCI: Pasar Modal RI Diguncang, Investor Ritel Jadi Korban Gejolak

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyatakan kemarahan besar terhadap lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) setelah peringatan yang dikeluarkan MSCI beberapa waktu lalu mengguncang pasar modal Indonesia dan menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam. Peringatan itu dinilai telah mencoreng reputasi pasar modal nasional dan berdampak merugikan bagi investor ritel.

Peringatan dari MSCI muncul karena lembaga ini menyoroti sejumlah isu penting terkait transparency (transparansi) dan investability (daya tarik investasi) pasar modal Indonesia, terutama soal struktur kepemilikan saham yang dinilai rendah dan kurang jelasnya data kepemilikan individual dibanding standar global. MSCI bahkan freeze (membekukan) pembaruan indeks dan rebalancing untuk saham–saham Indonesia hingga perbaikan kebijakan dilakukan, termasuk rencana penguatan free float.

Imbas dari peringatan itu membuat IHSG pada akhir Januari 2026 anjlok sekitar 8% dalam beberapa sesi perdagangan, memicu trading halt berkali–kali di Bursa Efek Indonesia. Turunnya indeks saham ini juga berkaitan dengan kekhawatiran investor asing terhadap kemungkinan Indonesia diturunkan statusnya dari pasar negara berkembang ke pasar frontier jika kendala transparansi tak segera ditangani.

Kemarahan Prabowo: Bukan Soal Teknis Biasa

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan utusan presiden, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo sangat marah terhadap dampak peringatan MSCI. Menurutnya, masalah ini bukan sekadar isu teknis pasar, melainkan juga terkait keharmatan dan reputasi negara di mata global.

“Presiden Prabowo sangat marah atas apa yang terjadi minggu lalu. Terutama kehormatan negara kita dipertaruhkan… banyak investor ritel yang menjadi korban,” ujar Hashim dalam keterangan pers di Gedung BEI, Jakarta.

Hashim menekankan bahwa kejadian ini telah memukul kepercayaan publik terhadap pasar modal nasional. Banyak investor ritel yang mengalami kerugian kapan IHSG turun tajam dan aktivitas jual besar–besaran terjadi. Pemerintah, menurutnya, akan memberikan arahan tegas kepada otoritas pasar modal untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas.

Respons OJK & BEI: Perbaikan Transparansi Pasar Modal

Menanggapi kemarahan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI telah merespon dengan menyusun langkah taktis. Mereka menyampaikan bahwa pertemuan dengan MSCI telah diadakan dan sejumlah rencana perubahan sedang dilaksanakan untuk meningkatkan struktur pasar modal Indonesia.

Beberapa langkah yang tengah digodok antara lain perbaikan data free float, peningkatan keterbukaan atas ultimate beneficial ownership (UBO), serta timeline untuk perbaikan transparansi di muka MSCI sebelum batas waktu pengkajian kembali pada Mei 2026.

Dampak Global & Rating Internasional

Peringatan MSCI juga tidak berdiri sendiri. Lembaga pemeringkat lain seperti Moody’s bahkan telah menurunkan outlook credit Indonesia menjadi negative dari stable, setelah melihat tingginya ketidakpastian kebijakan dan risiko investor global pada pasar keuangan Indonesia.

Evaluasi seperti ini menjadi alarm bell bukan hanya bagi pemerintah tetapi juga pelaku pasar di dalam negeri. Maka dari itu, respons koordinatif antara regulator, BEI, dan pemerintah dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor internasional dan domestik.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/