IMG-20251205-WA0269-2910548632
Lelah Kebanjiran Terus! Warga Pesisir Utara Bekasi Desak Pemkab Segera Perbaiki Tanggul dan Normalisasi Kali

KABUPATEN BEKASI — Bantuan sembako memang meringankan beban sesaat, namun bukan itu yang paling didambakan warga pesisir utara Kabupaten Bekasi saat ini. Di tengah ancaman banjir rob dan luapan sungai yang terus berulang, masyarakat menyuarakan tuntutan keras kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi.

Warga yang bermukim di wilayah Cabangbungin, Muaragembong, dan sekitarnya mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah konkret berupa perbaikan tanggul yang kritis dan normalisasi kali yang mengalami pendangkalan parah.

Aspirasi ini mencuat lantaran kondisi infrastruktur pengendali air di wilayah utara dinilai sudah sangat memprihatinkan dan tidak mampu lagi menahan debit air saat musim hujan atau pasang laut tiba.

Tanggul Kritis Jadi “Bom Waktu”

Perwakilan tokoh masyarakat setempat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi tanggul Sungai Citarum maupun kali-kali sekunder di wilayah mereka. Banyak titik tanggul yang kondisinya sudah retak, amblas, bahkan jebol, sehingga menjadi “bom waktu” yang siap menenggelamkan pemukiman warga kapan saja.

“Kami minta jangan cuma ditambal sulam pakai karung pasir kalau sudah banjir. Kami butuh perbaikan permanen, tanggulnya ditinggikan dan diperkuat beton. Kalau begini terus, kami tidak bisa tidur nyenyak setiap hujan turun,” tegas aspirasi warga.

Sungai Dangkal Percepat Banjir

Selain masalah tanggul, pendangkalan sungai (sedimentasi) juga menjadi sorotan utama. Warga menilai kapasitas tampung sungai di wilayah utara Bekasi sudah sangat berkurang akibat lumpur dan sampah yang menumpuk bertahun-tahun.

Akibatnya, sedikit saja ada kiriman air dari hulu atau pasang laut, air langsung meluap ke jalan dan rumah warga karena sungai sudah tidak muat lagi menampung debit air.

“Normalisasi atau pengerukan kali itu harga mati. Sungai sudah dangkal sekali, wajar kalau airnya lari ke rumah warga. Kami minta alat berat diturunkan, keruk itu lumpur sampai dalam,” tambah desakan warga.

Pertaruhan Ekonomi Petani dan Nelayan

Desakan ini bukan tanpa alasan. Banjir yang terus menerus tidak hanya merusak perabotan rumah, tetapi juga mematikan mata pencaharian utama warga utara Bekasi, yakni pertanian (sawah) dan pertambakan.

Ribuan hektare sawah dan tambak seringkali gagal panen karena terendam banjir luapan sungai atau intrusi air laut akibat tanggul yang jebol. Kerugian ekonomi yang diderita warga sudah tak terhitung jumlahnya.

Masyarakat berharap aspirasi ini didengar oleh Pj Bupati Bekasi dan dinas terkait (SDABMBK) untuk segera dianggarkan dan direalisasikan pada tahun anggaran 2026, atau menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk kondisi darurat.


Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/