aksi-mogok-sopir-jeepney-imbas-harga-bbm-1774500401057_169
Krisis Energi Hantam Filipina: BBM Langka, Warga Ramai-ramai Jalan Kaki ke Tempat Kerja

Jakarta – Krisis energi global kembali menunjukkan dampak nyatanya di Asia Tenggara. Filipina kini menghadapi kelangkaan bahan bakar yang membuat aktivitas transportasi lumpuh di sejumlah wilayah, terutama di ibu kota Manila. Akibatnya, banyak warga terpaksa berjalan kaki menuju tempat kerja karena berkurangnya kendaraan yang beroperasi di jalan.

Fenomena ini ramai dibagikan di media sosial. Sejumlah video memperlihatkan jalan raya yang biasanya dipenuhi kendaraan mendadak sepi, digantikan barisan warga yang berjalan kaki. Kondisi tersebut terjadi setelah harga bahan bakar melonjak tajam, membuat banyak pengemudi kendaraan umum hingga ojek online menghentikan operasionalnya karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan pendapatan.

Laporan media internasional menyebut krisis energi ini berkaitan erat dengan konflik geopolitik di Timur Tengah. Operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak global. Filipina yang sangat bergantung pada impor minyak langsung merasakan dampak signifikan dari gejolak tersebut.

Salah satu dampak paling terlihat adalah perubahan drastis kondisi lalu lintas di Manila. Perjalanan sejauh sekitar 26 kilometer dari Bandara Manila menuju Balai Kota Quezon City yang biasanya memakan waktu dua jam kini bisa ditempuh hanya dalam 45 menit karena jalanan jauh lebih lengang.

Meski lalu lintas menjadi lebih lancar, kondisi ini bukanlah kabar baik. Berkurangnya jumlah kendaraan pribadi, bus, jeepney, dan layanan transportasi online membuat masyarakat beralih ke transportasi publik berbasis rel. Akibatnya, stasiun kereta di Manila mengalami lonjakan penumpang yang signifikan, terutama saat jam sibuk. Kepadatan pun tak terhindarkan.

Pemerintah Filipina bergerak cepat dengan menetapkan status darurat energi nasional selama satu tahun sejak 25 Maret. Langkah ini diambil untuk merespons lonjakan harga energi sekaligus menyiapkan kebijakan mitigasi jangka panjang.

Namun tantangan yang dihadapi tidak berhenti pada sektor transportasi. Para analis memperingatkan krisis energi berpotensi memicu efek domino terhadap perekonomian. Kenaikan harga bahan bakar diprediksi akan mendorong inflasi, terutama pada harga barang kebutuhan pokok yang bergantung pada distribusi logistik.

Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) juga mulai menghantui berbagai sektor, khususnya industri transportasi dan logistik. Jika kondisi berlarut-larut, daya beli masyarakat dapat menurun, memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebelum konflik di Timur Tengah memanas, ekonomi Filipina diperkirakan mampu tumbuh sekitar 5 persen. Namun dengan tekanan energi yang terus meningkat, proyeksi tersebut kini semakin sulit dicapai.

Situasi di Filipina menjadi peringatan bagi banyak negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi. Ketergantungan tersebut membuat stabilitas ekonomi domestik sangat rentan terhadap gejolak global. Tanpa strategi diversifikasi energi dan ketahanan pasokan, krisis serupa berpotensi terjadi di negara lain.

Bagi masyarakat Filipina, krisis ini bukan sekadar angka dan kebijakan, melainkan realitas sehari-hari. Dari pekerja kantoran hingga buruh harian, ribuan orang kini harus mengandalkan tenaga kaki demi mempertahankan aktivitas ekonomi mereka.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/