Jakarta — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dikabarkan merasa khawatir akan kemungkinan mengalami nasib serupa dengan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang baru-baru ini ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi militer mendadak di Caracas. Pernyataan itu disampaikan oleh seorang mantan diplomat Korea Utara yang kini berdomisili di luar negeri, yang menilai bahwa kejadian di Venezuela memperkuat ketakutan Kim akan intervensi asing terhadap rezimnya.
Menurut analis, penangkapan Maduro — yang diikuti dengan operasi militer cepat yang melibatkan pasukan AS — menjadi “skenario mimpi buruk” bagi rezim Pyongyang yang selama ini sangat paranoid terhadap ancaman eksternal. Dalam wawancara dengan media internasional, eks diplomat tersebut mengatakan bahwa Kim kini semakin yakin bahwa Washington dapat melancarkan operasi serupa terhadap Korea Utara, yang tentu akan berujung pada runtuhnya kekuasaannya.
Ketakutan Kim dan Reaksi Pyongyang
Sejak lama, Korea Utara melihat Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar terhadap keberlangsungan rezim. Ketakutan ini tidak hanya berdasar retorika politik, tetapi juga pada pengalaman masa lalu ketika negara tersebut terlibat dalam ketegangan militer berkepanjangan dengan Washington dan Seoul. Peristiwa di Venezuela — yang menurut Pyongyang merupakan “pelanggaran kedaulatan” oleh AS — semakin memperkuat narasi internal bahwa rezim harus siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk serangan langsung terhadap para pemimpinnya.
Pyongyang secara resmi mengecam penangkapan Maduro sebagai bentuk “hegemonisme dan tindakan brutal AS” yang dinilai melanggar hukum internasional dan piagam PBB. Dalam pernyataan kantor berita resmi Korea Utara, tindakan Washington disebut sebagai contoh sifat “biadab dan agresif” Amerika terhadap negara berdaulat lainnya.
Pengaruh pada Kebijakan Nuklir
Salah satu dampak paling signifikan dari ketakutan Kim itu adalah kemungkinan percepatan kebijakan keamanan Korea Utara, termasuk program nuklir dan misil balistik. Para analis internasional menyatakan bahwa Kim kemungkinan besar akan semakin mengandalkan kekuatan nuklir sebagai alat deterrent atau pencegah terhadap kemungkinan intervensi militer asing. Sebelum insiden Maduro, Pyongyang sudah menegaskan bahwa senjata nuklir adalah lini pertahanan utama rezimnya dari gugatan eksternal — meskipun di kemudian hari hal ini berpotensi menciptakan eskalasi baru dalam ketegangan global.
Eks diplomat Pyongyang yang kini berada di luar negeri mengatakan bahwa insiden di Venezuela mungkin telah membuat Kim melihat bahwa tanpa nuklir, rezimnya bisa lebih rentan terhadap operasi udara atau operasi “decapitation” yang sama seperti yang terjadi di Caracas. Hal ini mencerminkan betapa kuatnya pandangan bahwa hanya dengan senjata nuklir Korea Utara dapat memastikan keamanan jangka panjang rezim.
Dampak Global dan Reaksi Internasional
Komunitas internasional sendiri bereaksi beragam terhadap penangkapan Maduro. Beberapa negara mengecam tindakan AS sebagai pelanggaran terhadap norma hukum internasional, sementara yang lain mengkhawatirkan dampaknya terhadap stabilitas global. Dalam konteks ini, reaksi Pyongyang menjadi salah satu contoh bagaimana ketegangan internasional dapat mempengaruhi kebijakan keamanan negara lain di luar hubungan langsung mereka dengan Venezuela.
Terlepas dari perdebatan global tentang legitimasi operasi AS di Venezuela, peristiwa itu tampaknya telah meninggalkan jejak psikologis yang dalam pada Korea Utara dan pemimpinnya. Kim Jong Un kini diperkirakan akan menempatkan keamanan rezim dan kemampuan militer sebagai prioritas utama, sembari terus memantau potensi ancaman yang datang dari luar.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
















