Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami gejolak pasar yang tajam pada perdagangan akhir Januari 2026, dengan penurunan signifikan selama dua hari berturut-turut yang mengguncang kepercayaan investor domestik maupun asing. Dampak dari kejatuhan ini begitu besar sehingga Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar modal saat ini.
Penurunan IHSG: Dua Hari Turun Beruntun
Perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Rabu dan Kamis pekan ini menyaksikan IHSG anjlok lebih dari 8% dalam dua hari berturut-turut, memaksa otoritas bursa untuk menerapkan mekanisme penghentian sementara perdagangan (trading halt) guna menahan tekanan jual yang ekstrem. Turunnya indeks ini mencerminkan reaksi pasar terhadap sejumlah risiko struktural dan penilaian ulang investor global terhadap pasar modal Indonesia.
Penurunan tajam ini disebut sebagai yang paling dramatis sejak beberapa bulan terakhir, mencerminkan kekhawatiran pasar atas sejumlah faktor eksternal dan internal, termasuk sentimen global serta persepsi risiko domestik yang meningkat. Data menunjukkan erosi nilai pasar modal Indonesia mencapai puluhan miliar dolar AS selama periode volatil tersebut.
MSCI dan Risiko Downgrade Pasar
Salah satu pemicu utama gelombang jual ini adalah peringatan dari MSCI (Morgan Stanley Capital International), salah satu penyusun indeks pasar global terbesar di dunia, yang menyatakan kekhawatirannya terhadap masalah transparansi kepemilikan saham dan data perdagangan di pasar modal Indonesia. MSCI memperingatkan bahwa jika isu-isu tersebut tidak diatasi, Indonesia berisiko diturunkan dari status pasar emerging menjadi frontier market dalam indeks globalnya.
Peringatan ini menyebabkan investor asing menarik modalnya secara signifikan dari pasar saham Indonesia, memicu aksi jual besar-besaran yang segera tercermin dalam pergerakan IHSG. Aliran keluar modal asing dan kekhawatiran yang meningkat terhadap masa depan pasar membuat indeks terus tertekan.
Pengunduran Diri Dirut BEI: Bertanggung Jawab atas Pasar
Dalam pernyataannya Jumat (30/1/2026), Iman Rachman — Dirut BEI — mengumumkan pengunduran dirinya, menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar yang tidak stabil serta aksi jual yang melanda IHSG selama dua hari terakhir. Pengunduran diri ini mengejutkan pelaku pasar dan menggambarkan tekanan yang dihadapi manajemen bursa saat krisis.
Iman Rachman menyampaikan harapannya bahwa pengunduran diri itu akan menjadi langkah yang membantu mengembalikan kepercayaan publik dan memicu stabilisasi pasar. Ia juga memastikan bahwa langkah regulasi dan respons otoritas akan terus dijalankan untuk merespons kebutuhan pasar modal.
Respons Regulator dan Kebijakan Pasar
Menanggapi gejolak ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI mengumumkan beberapa langkah kebijakan untuk memperkuat pasar modal, termasuk peningkatan persyaratan free float saham minimal menjadi 15% untuk meningkatkan likuiditas dan keterlibatan investor publik dalam saham yang terdaftar. Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk meredam kekhawatiran terkait struktur saham yang terlalu terkonsentrasi pada pemegang tertentu.
Beberapa analis pasar menyatakan bahwa sentimen negatif ini bukan semata masalah fundamental ekonomi Indonesia, melainkan respon terhadap instrumen indeks global dan persepsi risiko oleh investor internasional. Mereka mencatat bahwa meskipun IHSG turun tajam, fondasi ekonomi domestik masih dianggap relatif kuat dan volatilitas pasar diharapkan mereda jika transparansi dan regulasi semakin diperkuat.
Prospek Ke Depan IHSG
Setelah pengumuman pengunduran diri Dirut BEI dan kebijakan respons cepat oleh regulator, IHSG pada sesi perdagangan Jumat sempat mengalami penguatan ringan, mencerminkan upaya stabilisasi pasar. Ke depan, pelaku pasar akan terus mengamati langkah-langkah reformasi pasar dan dialog antara otoritas Indonesia dengan lembaga indeks global seperti MSCI untuk mengembalikan momentum positif bagi investasi jangka panjang.
Dengan demikian, gejolak IHSG akhir Januari ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan pasar modal Indonesia pada awal 2026 — sekaligus menjadi ujian bagi struktur pasar dan mekanisme regulasi dalam menghadapi tekanan global.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
















